Dua : Leku dan Biya

Belang hitam dan kuning telon, sepasang kucing itu merangkak lambat. Demikian payah laparnya, sampai gemetaran kaki-kaki mereka. Namun, begitu didengarnya teriakan para prajurit, secepat mungkin mereka sembunyi, lari tersandung-sandung. Wajah keduanya bagai dibedaki ketakutan.

“Cepat! Sebelum gelap kita harus sampai di benteng.” teriak seorang prajurit. Baca lebih lanjut

Iklan

Kisah Lima Sobat

Siapakah yang akan menjadi cermin bagi kita? Kalau aku menjawab: teman. Teman yang mengenal kita luar dalam, dan kita pun mengetahuinya dari segala sisi. Apalagi jika kita telah lama berteman, itu akan membuat cerminnya semakin jernih. Baca lebih lanjut

Semburat Senja

Weeii, kemarin baru selesai baca Maryamah Karpov. Seperti biasa dan sama dengan kebanyakan orang, lidah kita pasti berdecak kagum. Dari sekian banyak gula pengalaman yang tertuang, salah satu yang begitu indah adalah tentang kehidupan masyarakat Belitong. Mereka simple, asyik dan menyenangkan. Anak-anaknya – seperti Laskar Pelangi waktu kecil – jauh dari teknologi modern namun dekat dengan alam yang sejuk. Baca lebih lanjut

Telaga nan jernih

Perjalanan manusia itu hitam putih. Terkadang hitam, dimana dia tak bisa melihat mana
yang benar, mana yang salah. Hidupnya tak ada tujuan, selain melangkah membabibuta. Tapi
manusia punya Tuhan, yang akan menuntun kita menuju jalur yang tenang. Disaat kita mendapat
kasihsayangnya inilah, hidup manusia berbalik putih benderang. Baca lebih lanjut

Masih bisakah kita berkumpul?

Saat ini aku hidup bersama keluargaku yang utuh. Masih ada Bapak, ibu, kakak dan adik. Suatu kesederhanaan yang membahagiakan ketika kami semua berkumpul, meski hanya dengan secangkir teh dan kopi di tangan. Kebiasaan itu terus berjalan sampai saat ini, saat aku beranjak dewasa. Namun frekuensinya sudah berbeda, seiring kesibukan kami. Karena itu, aku dan saudara-saudaraku sepakat bahwa dalam satu minggu minimal kami duduk bersama satu kali. Dan waktunya fleksibel, bisa hari senin, selasa atau yang lainnya. Sering kuperhatikan, betapa gembiranya wajah orangtua yang tak kenal lelah mengasuh kami, ketika kami bersama-sama. Mereka lebih banyak terdiam, mendengarkan cerita anak-anaknya yang selalu mereka cintai, dengan tatapan penuh kasih sayang. Seumur hidup takkan kulupa momen ini. Momen saat kami diliputi kedamaian, melihat Bapak dan ibu tertawa lepas. Momen dimana hati mereka penuh suka cita mendengar lelucon putra-putrinya.

Tapi, sekelumit pertanyaan membuatku gundah sampai sekarang. Akan adakah kebahagiaan itu dimasa depan? dengan adikku yang kaku namun baik, bersama kakak yang humoris dan tentu saja…orang tua penuh cinta kasih, mengingat mereka dalam usia senja sedangkan kami berada pada masa keemasan umur.

Maut pasti akan menghampiri anggota keluarga ini. Itu aku tahu. Namun yang belum kuketahui adalah, apakah setelah kematian datang memisahkan, kami akan berkumpul kembali, di alam akhirat sana?

Akhirat adalah alam yang kekal, dimana hanya ada dua pilihan tempat. Neraka atau Surga. Bagaimana seandainya aku di neraka, sedangkan keluargaku yang lain di surga? Itu berarti selamanya kami takkan berkumpul lagi. Bagaimana ini, bisakah aku mengalami momen itu lagi? Pertanyaan ini terus menggelayut dalam benakku, menanti sebuah jawaban.

Sky Train

Konon kabarnya, di langit kita tinggallah seseorang. Ia mempunyai sebuah kereta yang siap diluncurkan kapan saja dan kemana saja. Tentu saja ia mengatur jadwal perjalanan kereta.Kereta itu tidak ditarik oleh apapun, ia menyerupai kereta api kecil dan tidak mempunyai gerbong. Hanya lokomotifnya saja. Di dalamnya terdapat ruang barang untuk menyimpan paket paket yang akan dikirimkan.

Kereta itu berjalan setiap hari, dan ia terbang mengelilingi dunia untuk mengantarkan paket barang pada manusia yang namanya tertera dalam daftar. Baca lebih lanjut