Andaikan kau datang kembali…

Selasa keempat di bulan mei. Lumut hijau bagian pucuknya mulai berwarna kunig tua. Sedangkan warna di dalam rumah itu masih suram. Auranya penuh akan nestapa. Nika merapikan meja makan dengan lap biru. Kedua matanya bengkak, hitam dan murung. Tangannya bergerak tanpa gairah. Kemudian dia mendesah.

“Haaahh…” Baca lebih lanjut

Iklan

Aku, The…

Nafasku memburu. Rasanya jantungku mau pecah, tapi ku hardik kakiku agar terus berlari. Kupandang bumi didepan, masih terlihat bukit pasir di temani samudra pasir menghampar.

” Berapa jauh lagi aku mesti berlari? di mana kampung itu?” tanyaku sambil mengusap peluh di dahi. Baca lebih lanjut

Maafkan aku, Mia

Aku gelisah. Apapun yang kukerjakan rasanya tak tenang.
“Brugh”
Kujatuhkan tubuhku ke atas kasur. Niatku ingin menenangkan diri, tapi malah jantung ini berdetak kian cepat. Pikiran itu terus memaksaku untuk menurutinya. Dan hampir bulat tekadku untuk segera beraksi. Namun sedikit rasa takut serta suatu suara berhasil menahan gejolak itu. Jadilah aku terombang-ambing dalam kebimbangan. Baca lebih lanjut