Dua : Leku dan Biya

Belang hitam dan kuning telon, sepasang kucing itu merangkak lambat. Demikian payah laparnya, sampai gemetaran kaki-kaki mereka. Namun, begitu didengarnya teriakan para prajurit, secepat mungkin mereka sembunyi, lari tersandung-sandung. Wajah keduanya bagai dibedaki ketakutan.

“Cepat! Sebelum gelap kita harus sampai di benteng.” teriak seorang prajurit.

Dua kucing itu bersembunyi disela dedaunan kunir yang layu. Jika saja ada seorang diantara prajurit itu yang menengok, pastilah sosok si Belang dan Kuning telon tampak, karena demikian jarangnya daun-daun itu. Untunglah tak ada yang melakukannya. Setelah pasukan itu menghilang dari pandangan, Leku si kuning telon dan Biya si belang hitam, keluar beringsut-ingsut. Biarpun mereka sudah tak ada, keduanya masih merasa ketakutan. Didorong rasa takut, kedua kucing itu berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu, mengalahkan rasa lemas karena lapar yang mereka derita.

***

Awalnya Leku dan Biya hidup bahagia. Mereka dipelihara oleh satu keluarga seniman. Tuan mereka demikian baik padanya. Ke mana-mana pastilah keduanya dibawa serta. Semula Biya yang dirawat oleh mereka, tepatnya oleh anak lelaki keluarga itu yang bernama Sutan. Barulah Leku menyusul, sebagai hadiah dari kerabat dekat keluarga itu, dan diberikan pada Nila, adik Sutan. Masa itu adalah zaman dimana perang sama seperti musim, setahun terjadi dua kali. Beragam latar belakangnya. Sengketa warisan tahta, balas dendam, sampai perluasan wilayah.

Tak terkecuali Negeri Karo, tempat keluarga Sutan hidup. Karo diserang dua musuh sekaligus yang ingin menguasai tanah subur negeri itu. Kekacauan pun timbul. Ribuan rakyat jatuh terpedang. Yang masih selamat dan kuat bersatu melawan penjajah. Tiada lagi ketenangan di dalamnya.

Ibu Nila tewas dibunuh pasukan musuh. Yang lainnya kemudian memutuskan untuk mengungsi mencari tempat aman. Kucing peliharaaan mereka terpaksa ditinggal karena tuannya tak sempat lagi mengurusi. Sejak itu, dimulailah kehidupan Leku dan Biya seperti sekarang ini.

Berbulan-bulan kedua hewang itu melangkah tiada tujuan. Mengais sampah yang jarang ada sisa makanan terbuang. Terbirit-birit lari sembunyi dari prajurit kejam yang iseng membunuh hewan tak bertuan. Pernah mereka saksikan, seekor anjing dipenggal kepalanya karena rupa anjing itu tak disukai oleh si prajurit.

Sudah lebih dari tiga hari tidak ada makanan yang masuk ke perut kucing hitam dan kuning itu. Hanya air yang mengganjal lapar, sampai mereka muntah saking banyaknya air yang mereka minum. Saat itu, Leku hampir tak bisa berjalan. Tenaganya habis. Oleh Biya, disemangatinya ia untuk terus maju dengan mengatakan bahwa mereka akan segera menemukan makanan. Namun Leku tak bergeming. Melihat itu, Biya lantas menjilati dengan penuh kasih sayang wajah dan kepala Leku. Ia sungguh tak ingin melihat temannya itu mati, seperti dulu saat ia melihat induknya mati kelaparan sebelum dirinya dipungut oleh keluarga Sutan.

Terus dijilatinya Leku. Biya tak khawatir air liurnya kering karena memang sudah habis liur dimulutnya, sebab lama tak menyentuh makanan.

“Miaw…”

Biya mengeong pelan memanggil temannya. Tapi yang dipanggil tak menyahut. Matanya terpejam, sedangkan helaan nafasnya pendek-pendek. Hal itu membuat Biya panik. Satu kaki depannya menggoyang tubuh Leku. Leku memberi jawaban dengan membuka kedua matanya perlahan, setelah itu menutup lagi. Biya yang belang lalu berkata pada Leku, agar dia bertahan. Dirinya hendak mencari makanan untuk mereka. Segera kucing itu berlari mengerahkan sisa-sisa tenaganya. Ia sendiri bingung mau mencari ke mana.

Hampir dua jam berlalu. Leku yang hilang setengah kesadarannya, mendengar langkah kaki terseret. Langsung terlintas wajah prajurit yang memenggal kepala anjing. Tapi dirinya sudah tak bisa ke mana-mana. Kalaupun bisa, itu juga percuma, dia tidak akan lolos dari kejaran orang itu. Walau begitu, dibukanya mata untuk melihat seperti apa tampang orang yang datang. Apa yang terlihat membuat dirinya terperangah. Sesuatu yang besar dan tampak bekas darah tengah diseret oleh Biya.

Semakin dekat, semakin jelas benda itu. Itu adalah mayat! Mayat seorang nenek renta yang mati dengan leher hampir putus. Dengan nafas terengah-engah dan wajah lelah, Biya menarik tubuh itu sampai di depan Leku. Setelah itu mukanya berbinar.

“Leku. Makanlah. Ini aku dapat daging. Cukup untuk kita berdua selama tiga hari, mungkin lebih.”

Leku bergiliran memandang ke arah Biya dan mayat.

“Memang sudah tak segar. Tapi kurasa masih dapat dimakan. Ayolah, bukankah kau sudah teramat lapar?!” sambil berkata begitu Biya tersenyum.

Leku enggan memakannya. Namun ia tak ingin melukai hati Biya, maka dicobanya menggigit daging di bahu. Baru sampai di dalam mulut, daging itu segera dimuntahkannya.

“Whoekk.”

Biya pun jadi cemas melihatnya.

“Kenapa, kawan?”

“Sungguh aku tidak bisa memakannya. Tubuh ini memiliki aroma yang sama dengan tuan kita, aroma orang baik. Tak sampai hati aku melakukannya.” Leku berkata sendu.

Biya terdiam mendengarnya. Sayang hewan tak bisa menangis. Seandainya bisa, pastilah aku saat ini sudah menangis.

“Sudahlah, Leku. Jangan pikirkan hal itu. Lagipula nenek ini sudah tak bernyawa. Tak inginkah kau bertemu kembali dengan tuan kita yang baik hati?” Biya berusaha membujuk.

Mendengar ucapan itu terbitlah harapan dalam diri Leku. Tentu saja ia ingin bertemu lagi dengan tuannya. Tak terbayangkan rasa sedihnya ketika mesti berpisah dengan mereka. Kemudian ia mencoba memakannya sedikit demi sedikit. Terasa organ dalam perutnya menolak menerima daging itu, tapi dipaksanya juga untuk masuk.

***

Kucing Polang dan belang itu terus berjalan. Mereka tak tahu mau ke mana. Keduanya berharap bisa berjumpa lagi dengan tuannya dalam langkah kaki mereka. Dan langkah kaki mereka pun terus terayun.

Sepanjang pencarian itu, mereka melihat banyak hal. Banyak hal, hasil dari pertikaian para manusia. Sangat ngeri mereka memikirkannya. Hewan pun bila berselisih tak sampai membunuh pihak yang tak terlibat. Kenapa manusia bisa sekejam ini?

Suatu hari, Leku dan Biya menjumpai iringan pengungsi yang hendak pergi ke utara. Di sana kondisinya lebih stabil ketimbang daerah lain di Karo, karena keluarga raja tinggal di situ. Rombongan pengungsi itu berjumlah tak sampai seratus orang. Tiba-tiba mata Biya mengejap. Dia melihat sesuatu, dan lari memburunya. Leku yang kaget segera menyusulnya. Lalu terjadilah keributan dalam rombongan itu. Seorang pengungsi berteriak lantaran kakinya diterkam kucing. Pengungsi itu menendang-nendangkan kakinya agar kucing itu pergi. Bukannya pergi, si kucing malah menggigit pula. Ditambah ada seekor lagi yang datang. Kebanyakan tak peduli dengan apa yang terjadi padanya. Hanya ada satu orang yang mendekat hendak menolong.

“Kakak tolong aku. Dia tiba-tiba menyerang.” katanya sambil menunjuk ke arah penyerangnya. Yang dipanggil kakak itu melihat ke arah yang ditunjuk adiknya. Terkejutlah dia.

“Biya!” ucapnya tak percaya.

Biya ganti menuju orang itu. Diusapkan kepalanya pada kaki laki-laki tersebut. Si adik menyadari apa yang terjadi. Jika ada dia maka…

“Miawww” Leku melompat ke dalam pangkuanya.

“Leku!” lalu dipeluknya kucing itu. Spontan dia menangis haru, tak menyangka akan bertemu hewan peliharaan kesayangannya. Orang-orang melewati mereka tanpa acuh pada apa yang terjadi. Dan mereka juga tak menghiraukan orang-orang itu.

“Bagaimana kalian bisa menemukan kami?” kata laki-laki yang ternyata Sutan. Sesungguhnya ia tak butuh jawaban karena sadar yang ditanya takkan bisa memberi jawab.

Sementara adiknya, Nila, menangis tersedu-sedu. Dan Leku berusaha menenangkannya dengan menggesekkan kepalanya di pipi Nila sambil mengeong lirih.Cukup lama seperti itu, sampai Sutan tersadar bahwa rombongan pengungsi sudah jauh terlihat.

“Nila, Nila. Kita harus segera menyusul yang lain sebelum tertinggal jauh.” kata Sutan sambil mengajak adiknya berdiri.

“Ayo, sekalian kita bawa mereka.”

“Jangan! Mereka tak boleh ikut serta.”

“Kenapa, Kak?” tanya Nila heran.

“Kita tak bisa membawanya, Nila. Selama ini saja, kita kesulitan mencari makan buat aku, kamu dan ayah. Bagaimana kita nanti mengurus Biya dan Leku? Selain itu kakak khawatir mereka akan membuat masalah dengan mencuri makanan pengungsi lain ketika mereka lapar dan kita tak bisa memberinya makan.” Sutan berusaha menjelaskan alasannya pada Nila.

“Apakah kakak tidak kasihan pada mereka? Mungkin mereka telah mencari kita selama ini. Dan kini saat sudah bertemu, kita meninggalkan begitu saja.”

“Adikku, berapa banyak orang sekarat kelaparan yang kita biarkan selama ini? Kenapa kita acuhkan mereka? Karena jika kita menolongnya, maka kita yang akan mati kelaparan.”

“Segalanya serba sulit sekarang ini. Ki ta mesti tepat bersikap agar bisa bertahan hidup.”

Nila diam tak mampu berkata-kata lagi. Dia sedih meninggalkan mereka berdua. Tapi apa yang dikatakan Sutan benar. Tidak mungkin dia memperhatikan kucingnya, sementara ayah yang sekarang lemah dan kakaknya diabaikan.

“Lekas, Nila.” Sutan setengah memaksa adiknya untuk segera pergi menyusul yang lain. “Jika mereka ikut, bisa saja mereka dibunuh untuk dimakan. Biya dan Leku lebih aman di sini. Berdoa sajalah agar keduanya selamat.”

Dengan sedih dipandangnya kedua kucing itu. “Maafkan kami. Tapi kalian tak bisa ikut bersama dengan kami. Kalian berhati-hatilah, dan tetap hidup.” Lalu Nila dan kakaknya berlari menyusul para pengungsi. Leku mengikuti bersama Biya. Mereka tak mau berpisah dari tuannya. Sambil berlari, Sutan dan Nila berteriak menyuruh kucingnya berhenti mengejar. Tapi mereka tak mau berhenti dan terus membuntuti. Akhirnya Sutan mengambil sejumlah batu. Dilemparnya batu-batu itu ke arah Biya dan Leku. Setelah berkali-kali dilempari, akhirnya sebuah batu mengenai kaki belakang Biya. Biya pun mengeong kesakitan. Larinya terhenti. Melihat itu, Leku berhenti pula. Ia tak ingin meninggalkan temannya, walau dia juga mau mengejar tuannya. Ketika dilihat, Sutan dan Nila sudah pergi jauh meninggalkan mereka berdua.

***

Semakin banyak yang mati. Tapi perang terus berlanjut. Para penjajah terus mengirim pasukannya untuk menaklukkan semua wilayah Karo. Tak terpikir oleh mereka jumlah korban tak bersalah yang jatuh.

Walaupun masih hidup, tapi hati dua kucing itu terasa mati. Keduanya berduka tidak bisa bersama manusia yang telah mengasuh mereka dengan penuh kasih sayang. Padahal sudah susah payah mereka mencarinya. Meski begitu, mereka tidak sedikit pun membenci Sutan dan Nila. Keadaanlah yang membuat semuanya jadi begitu.

Memikirkan itu, semakin besar kebencian Biya dan Leku pada orang-orang yang menyebabkan terjadinya perang. Tak pernahkah terpikir bahwa oleh mereka, bahwa ambisinya akan menghancurkan banyak kehidupan.

Setelah ditinggal oleh tuannya, dua kucing itu melangkah tak tentu arah. Tiada lagi tujuan yang hendak dicapai. Kaki Biya masih pincang terkena lemparan batu oleh Sutan. Karena itu perjalanan mereka tak bisa cepat. Untunglah mereka tidak kesulitan lagi mendapat makanan. Banyak mayat, dan kini mereka tak segan untuk menyantapnya, sebab tidak ada pilihan lain. Itupun mesti berebut dengan kawanan gagak, anjing dan terkadang: manusia.

Suatu sore, mereka sedang mengerumuni tubuh dingin seorang pria. Saat sedang asyik itu, banyak penduduk berlarian. Wajah mereka ketakutan. Tapi keduanya acuh, dan tetap mengoyak daging mangsanya. Daging terus dikunyah sampai ada yang datang.

“Crassh.” kepala Leku berputar menggelinding. Ada darah. Merah.

Seorang prajurit memandang senang pada pedangnya yang masih tajam. Darah berceceran dari mata pedang itu. Kemudian si prajurit mencemooh Leku yang tubuhnya diam tak bergerak. Mengatainya sebagai kucing jelek yang membuat dirinya muak. Habis berkata begitu, dia dan beberapa kawannya tertawa tergelak.

Sementara Biya tercekat melihat mata Leku yang menatapnya kosong. Dia menjerit, ingin menangis, lalu menggeram penuh amarah. Cukup sudah penderitaan yang dialami olehnya akibat sikap kejam orang-orang gila perang itu. Biya berlari menerjang si prajurit. Digigit kakinya dengan kebuasan yang belum pernah dia rasakan selama ini. Cakarnya menghujam dalam merobek daging.

“Aargghh.” teriak prajurit itu. Dia melihat pada kakinya yang sakit. Matanya menemukan sesosok kucing belang. Dengan geram ditendangnya hewan itu. Biya mengerang kesakitan. Tapi dia kembali maju menyerang. Melihat itu, habis sudah kesabaran si prajurit. Pedangnya mengayun menebas. Biya berkelit ke samping, lalu melompat menggigit tangan lawannya yang memegang pedang.

Jeritan prajurit yang terluka memancing perhatian seluruh pasukan. Akibatnya, dia marah, kesakitan dan malu bukan main dilihat oleh teman-temannya. Apalagi penyebab semua itu cuma seekor kucing liar. Tercoreng harga dirinya sebagai prajurit. Dengan tangan kiri ditariknya Biya, lalu dibanting ke tanah. Kemudian dengan cepat ditusuknya perut si kucing.

“Jlepp.” sekali lagi pedang itu berdarah.

Tubuh Biya menggelepar. Nafasnya tercekat. Disisa kesadarannya ia menatap tubuh Leku yang tergolek tak bernyawa. Kemudian pandangannya kosong.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: