Kisah Lima Sobat

Siapakah yang akan menjadi cermin bagi kita? Kalau aku menjawab: teman. Teman yang mengenal kita luar dalam, dan kita pun mengetahuinya dari segala sisi. Apalagi jika kita telah lama berteman, itu akan membuat cerminnya semakin jernih.

Baru dua hari yang lalu aku mengetahui hal ini. Setelah pulang dari reuni. Itupun berawal dari kebetulan. Waktu itu aku baru beberapa hari pulang kampung. Setelah hampir dua tahun merantau mencari penghidupan dan pengalaman. Jumat pagi, aku ziarah dengan kakekku ke makam keluarga. Saat itu terhitung masih awal ramadhan. Di dekat pemakaman, aku bertatap muka dengan seseorang yang tampaknya tak asing. Dia juga terlihat merasakan hal yang sama. Dalam tempo sekian detik, nalarku memberi respon.

“Czztt.”

“Moko!”

“Arif!”

Yang terjadi kemudian adalah gelak tawa yang penuh rasa gembira. Moko adalah temanku waktu SD. Lama sudah kami tak bertemu. Banyak yang berubah darinya, makanya aku pangling tadi.

“Wah, nggak tahu mimpi apa semalam. Pagi ini bisa ketemu kamu.” kataku sumringah.

“Sama.” ucapnya dengan aksen aneh tapi lucu khas miliknya. “Aku kira tadi siapa, kayak pernah kenal. Weitz, udah berubah ya sekarang.”

“Nggak, ah. Masih sama kayak yang dulu kok. Oh ya, mau ke mana, Mok?” tanyaku karena melihat dia bersepeda.

“Oh, ini, mau ke pasar.”

“Ehm, ke pasar. Eh, udah dulu ya. Kmai mau nyekar nih.” kataku sambil menengok ke arah kakekku. Pandangan Moko mengikuti, sampai dia bertatap muka dengan kakekku. Mereka saling senyum dan menganggukkan kepala.

Kemudian kami berpisah. Baru beberapa langkah, dia memanggilku.

“Bentar, Rif. Aku lupa bilang kalau Mila dan Jenia mau ngadain reuni.

“Ah, kapan?’

“Katanya sih tanggal 29 Agustus. Ragil sudah kuajak. Tapi belum tahu bisa ikut atau nggak.”

Wah, ada Ragil juga.

“Emm, gini aja. Aku minta nomormu dulu. Nanti aku sambung lagi deh ngebahas reuni ini.”

“Boleh.” jawab Moko.

Kemudian kami berpisah.

***

Sudah kudapatkan nomor telepon kawan-kawanku. Akupun berniat menghubungi Mila dan Jenia, pemrakarsa acara reuni. Tapi ada saja yang menghalangi, sampai aku kelupaan melakukannya. Kebetulan, ketika aku hendak menghubungi mereka berdua, datang pesan dari Mila. Dia memberitahu perihal reuni tersebut.

Di hari H acara itu, aku kembali dihubungi Mila, menanyakan kepastianku untuk datang. Hampir bersamaan dengan Mila, Moko mengirimiku pesan. Isinya sama dengan Mila. Dia bertanya, “Jadi datang nggak, Rif?”

Seusai menjawab pertanyaan mereka berdua, kulihat jam dinding. “Baru jam setengah dua siang. Masih agak lama.” pikirku. “Lebih baik tidur dulu karena mungkin acaranya sampai malam.”

Jam tiga sore lebih sedikit aku bangun. Bergegas mandi set, set, set, lalu berpakaian. Kelar semuanya jam setengah empat kurang. Pamit pada keluarga, ambil sepeda, lalu cabut. Sampai di daerah Jenia-tempat kami berkumpul- aku bingung. Yang mana ya rumahnya. Lupa-lupa ingat. Habis, sudah lama tidak mampir. Terakhir, kalau tidak salah, aku ke sana sewaktu perpisahan kelas 6 SD.

Terus berputar-putar. Akhirnya sepeda kukayuh menuju perpustakaan daerah, tempat di mana aku sering menghabiskan waktu saat masih bersekolah di SMK. Lokasinya masih satu komplek dengan tempat tinggal Jenia dan Mila. Ternyata perpustakaan sudah tutup. Sambil menaiki sepeda dengan tangan kiri berpegangan pada pagar perpustakaan, kucoba menghubungi Moko. Namun tak ada respon. Lalu kukirim pesan pada Jenia, menanyakan siapa saja yang sudah datang.

“Belum ada.” balasnya.

Kutengok jam. Sudah lewat setengah lima. Kuputuskan menunggu sampai jam lima. Aku tak mau menunggu lebih lama karena cuaca saat itu agak mendung. Sambil menunggu, aku ber-sms-an dengan Jenia.

“Ya sudah. Tunggu saja di rumahku.”

“Nggak, ah. Malu.” jawabku tersipu. Selain memang aku malu, aku juga lupa di mana rumahnya. Mau menanyakan, segan.

Jam lima kurang sepuluh menit, sebuah pesan masuk.

“Mereka sudah datang.”

“Aha. Akhirnya datang juga.” Lantas meluncurlah aku ke rumahnya meski aku belum tahu. Pikirku,”Ah, nanti lihat saja rumah yang ada teman-temanku lagi ngumpul.”

Di tengah jalan aku berpapasan dengan seseorang naik motor. Aku penasaran. Lalu kuikuti dia berbelok memasuki gang. Kupanggil.

“Oii.” Tapi dia acuh.”Ah, sudahlah. Balik lagi.” kataku membatin.

Akupun berbalik keluar dari gang tersebut. Kemudian masuk ke gang lainnya. Tengok kanan-kiri. Kucari terus posisi mereka. Dengan cepat rasa senangku membuncah. Tahukah engkau, bagaimana suasana hatiku saat itu? Hahaha. Sungguh bahagia tak terkira. Dan aku tahu, nanti akan lebih bahagia dari ini. Di rumah sebelah kiri dari arah aku datang, dengan teras berkeramik hijau, ada Ragil dan Moko. Dua anggota Panjodet- a hope to be cool gank.

Hehehe. Rasanya gimana gitu. Ketemu lagi dengan orang-orang yang menjadi partner petualangan kita di masa silam. Kujabat erat tangan mereka. Ada rasa haru dan gembira. Tak lama kemudian, muncul dua orang berboncengan sepeda motor. Satu orang kutahu dia adalah Mila. Dan satunya lagi adalah orang yang kupanggil saat berpapasan di gang.

“Nah, benerkan. Ternyata kamu Jenia. Tadi aku panggil kenapa diam saja?”

Dia tertawa.

“Maaf, maaf. Soalnya tadi sempat ragu. Arif bukan ya?’ terang Jenia.

Sejenak kami terdiam. Mungkin berusaha menyesuaikan diri setelah lama sekali tidak berkumpul. Mataku memperhatikan mereka. Banyak yang berubah. Mila kini berkacamata dan sedikit bertambah bobotnya. Ragil agak kurusan dibanding terakhir kali aku melihatnya, namun lebih bersih. Jenia lebih periang sekarang. Dan Moko semakin konyol.

Ah, kanca-kancaku. Kalian adalah tulang belulang yang menumbuhkanku. Penyusun pondasi kedua dalam tonggak hidupku. Sayang beberapa orang tidak bisa datang karena kesibukannya. Sebagian lagi tak terlacak, tak ada yang tahu keberadaannya. Di manapun mereka, semoga senantiasa dalam kondisi sehat dan sejahtera, serta kami diberi kesempatan berjumpa lagi. Karena aku rindu.

Ada satu kejutan. Sekitar jam 17.30 muncul satu orang. Perawakannya sedang dan dia tampan. Amboi, tak disangka orang itu adalah Indra. Si lincah, demikian aku menjulukinya waktu kecil. Di saat yang lain baru berkembang raganya, Indra sudah memiliki tubuh yang liat dan gesit. Salto, ayan, dilakukannya bagai memetik daun tua.

“Trus ini gimana? Mau berangkat sekarang atau menunggu dulu. Siapa tahu ada yang datang lagi.” kata Mila sambil melirik jam.

“Terserah.” kata Ragil.

“Lebih baik kita berangkat sekarang. Takutnya tempat yang sudah dipesan dikasih ke orang lain.” Jenia menjelaskan.

“Ya sudah. Kalau begitu berangkat ke sana sekarang .” ajak aku.

“OK!”

Kami lantas pergi menuju rumah makan ABG-ayam bakar dan goreng. Ragil berboncengan dengan Moko, Jenia bersama Mila dan aku dengan Indra. Sepeda kutinggal di rumah Jenia. Dalam perjalanan aku bercakap-cakap dengan Indra.

“Masih nggak percaya lho, kalau kami ini Indra.”

“Masa?! Kenapa nggak percaya? Ini beneran aku kok.” jawab Indra sedikit tersipu.

“Hahaha. Ok deh. Sekarang kamu di mana, Ndra?”

“Apanya? Tempat tinggalnya?”

“Ya.”

“Sekarang di Teluk, Rif.”

“Lho, nggak di Jatiwinangun lagi toh?”

“Nggak. Sudah agak lama pindahnya.”

“Terus kakakmu, Harry. Gimana kabarnya?” aku ingat Harry karena dia dulu kakak kelas kami semasa SD.

“Baik. Sekarang lagi cari kerja dia. Sebelumnya ke Malaysia tapi cuma sebentar.”

“Ohh.”

Setelah itu kami lebih banyak diam. Sampai di ABG, tempatnya sudah sangat ramai. Kebanyakan rombongan anak sekolah yang hendak buka puasa bersama.

“Bentar ya, aku mau ke sana dulu.” kata Jenia yang kemudian pergi diikuti Mila. Tujuan mereka berdua adalah bangunan utama tempat kasir dan memasak makanana. Aku tahu alasan tempat ini dipilih. Karean ABG adalah rumah makan murah dengan masakan enak yang menyediakan tempat makan model pondokan, sehingga terasa lebih nyaman dan bebas. Maka dari itu, kebanyakan pelanggan di sini adalah abg yang notabene kantongnya pas tapi ingin gaul. Hehehe

Pondok yang sudah kami pesan berada di pinggir taman kecil dengan gentong untuk mencuci tangan serta sebotol sabun cair yang tidak bisa dipencet keluar. Jadi ya, sabunnya dituang saja kalau mau pakai. Kami berenam duduk berseberangan tiga-tiga dengan menyisakan satu meja kosong di sudut pondok. Ragil, aku dan Indra duduk membelakangi dinding bambu, lalu berhadapan dengan kami ada Jenia, Mila dan Moko.

Pukul 17.41 wib.

“Ayo, ayo. Buka…buka.” sambil berkata begitu, Ragil mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Rokok dan korek. Aku melirik sekilas dengan ekor mataku..

“Aku buka duluan ya.”

“Monggo.” Mila menimpali.

“Kita lulus SD tahun berapa ya?” kata Ragil tiba-tiba.

“Kayaknya 2001 lho. Soalnya aku ingat, waktu masuk SMP tuh tahun 2001.” kataku sambil berusaha mengingat-ingat. “ Iya, 2001.”

“2001. Berarti hamir sepuluh tahun kita berpisah ya. Sekarang kan tahun 2010 lewat 8 bulan.”

“Nggak nyangka hampir selama itu kita nggak ngumpul lagi kayak sekarang.” ucap Moko.

“Heeh.” Mila mengangguk.”Padahal masih kota.”

“Gimana lagi. Namanya juga sibuk. Pulang sekolah, capek. Mau main ke tempat kalian jadi segan. Apalagi sekarang sudah pada kerja sama kuliah. Jika bukan hari libur kayak sekarang, mungkin pada nggak bisa datang.” Ragil membersihkan puntung rokoknya seraya berbicara.

“…laka sumtu wa bika…” doa berbuka puasa dibacakan. Tak lama, mengumandanglah adzan maghrib dari siaran RRI dan makanan kamipun datang.

“OK. Kita makan dulu.” kata Moko. Bibirnya cengengesan senang.

“Aah. Kamu makan nasi sama lalapannya aja tuh. Ayamnya buat aku aja.” kata Ragil. Lantas diambilnya piring berisi ayam panggang.

“Tuh, kan. Sudah makan aja semua. Biar aku makan cuma pakai timun.” Moko pun merajuk dan tangannya bersiap mengambil nasi. Oleh Ragil segera dikembalikannya piring itu. Selanjutnya kami makan sembari bercanda ria. Apalagi, kemudian datang dua orang gadis turut duduk dalam pondok kami, di meja kosong di sudut pondok karena pondok yang lain telah penuh. Karuan saja mereka menjadi bahan godaan kami. Tentu saja kami disini yang dimaksud adalah para lelakinya. Bukankah sudah kodrat, bahwa kutub utara tarik-menarik dengan kutub selatan. Jujur, seandainya yang duduk ditempatku adalah aku lima sampai sepuluh tahun yang lalu, pasti tak begitu sikapku. Paling-paling hanya diam tersenyum.

Pada akhirnya tujuan kami adalah Alun-Alun kota Purwokerto. Kami berenam ke sana usai bersantap. Ternyata banyak orang punya niat yang sama dengan kami untuk menikmati malam di tempat itu. Karena tiba di sana, Alun-Alun penuh dengan orang Padahal cuaca agak mendung.

“Wah, rame.” celetuk aku.

“Trus kita mau duduk dimana nih?” tanya Indra.

“Cari dulu lah. Cari tempat yang pas dan nyaman buat kita.” kata Mila sembari melangkah di atas tanah berumput halus. Lalu Jenia mengikuti. Tak dapat berjauhan agaknya kedua orang ini. Kmai para pria-aku bingung, apa sebutan bagi kaum adam remaja selain kata cowok. Sedang kata lelaki kurasa kurang pas-menurut saja mau ke mana. Mungkin dilangkah ketujuh puluh sejak memasuki Alun-Alun, kami berhenti lalu duduk. Di sinilah akan kutunjukkan bagaimana seorang kawan menjadi cermin bagi kita. Belum lama duduk Ragil dan Moko berdiri, hendak membeli minuman dan kacang rebus. Kemudian giliran para gadis pamit untuk melampiaskan HIV (Hasrat Ingin Vipis, hehehe). Lama sekali. Jadilah aku mengobrol berdua saja dengan Indra. Sampai Moko dan Ragil balik, Jenia dan Mila masih tak kunjung kembali.

“Lho, mereka berdua ke mana?” tanya Ragil.

“Mi dan Je?! Mereka ke masjid cari toilet.” jawab Indra.

“Dua orang itu ke mana-mana pasti bareng. Dari dulu begitu.” kata Ragil sambil menyalakan rokoknya dan Moko merobek pembungkus kacang.

“Kalian juga tampaknya masih sama.” Asap putih mengepul keluar dari mulutnya.

“Ya nggaklah. Selama sepuluh tahun ini pasti banyak perubahan yang kita alami.” Moko menimpali. Kacang yang disuapkan ke mulutnya jatuh sebutir ke tanah.

“Tapi nggak ada yang seperti aku.”

Kutatap dia.

“Kenapa, Gil?”

Kedua kalinya asap berhembus.

“Berat, Rif. Sungguh berat. Rasanya nyesek kalau ingat jalan nasibku.”

“Lulus sekolah aku jadi sales alat masak. Kerja dari pagi sampai sore, jalan kaki bawa produk. Capek, panas, penghasilan nggak tentu. Cuma beberapa bulan aku disitu. Lalu ada tetanggaku yang ngajak ikut kerja di kantin sebuah sekolah swasta. Tahu nggak kerjanya ngapain? Nyapu plus ngepel koridor kelas. Trus nyuci gerabah di kantin. Makannya cuma sekali, ketupat sama gorengan kecil satu. Gajinya? Rp. 5000 seminggu.”

“Habis nerima gaji aku pamit keluar dari situ. Nganggur beberapa bulan. Cari-cari kerjaan, ketemu. Jadi penjual ayam goreng di kebondalem. Aku jualannya di depan toko tempat pacarku kerja. Nggak malu aku. Malah setiap pagi dia sering nepuk-nepuk gerobakku sambil bilang, Laris ya Mas dagangannya.” Lantas Ragil terkekeh. Aku turut tersenyum.

“Ini aku ngomong beneran, lho. Seneng banget aku waktu itu. Setelah agak lama, datang saudara nawarin pekerjaan di Jakarta. Jadi penjaga toko. Tapi cuma aku sendiri karyawannya. Habis toko baru sih. OK, aku mau. Sebelum berangkat ke sana aku ngobrol dengan kakak pacarku. Dia temanku juga sih. Malah dari dia aku kenal adiknya. Nah, kakak pacarku ni minta supaya aku jangan selingkuh di sana. Aku bilang agar dia nggak usah khawatir, pasti aku setia karena aku serius pacaran dengan adiknya. Sebaliknya, kuminta juga agar adiknya itu setia padaku.

Singkatnya aku pun berangkat ke Jakarta. Di sana malah aku jadi bener. Aku sholat, ngaji, belajar agama. Soalnya di sana sendirian, nggak ada kawan. Mau keluar-keluar, belum paham daerah situ. Sementara komunikasi sama pacar tetep jalan. Ternyata berat ya pacaran jarak jauh. Pulsanya boros banget. Tapi aku bela-belain dah. Pernah aku sakit di sana. Cuma bisa tiduran. Kangen, trus aku telepon pacar. Percaya nggak kalian, baru denger suaranya bilang “Halo”, langsung ngerasa sembuh aku. Beneran.

Satu dua bulan lewat. Waktu berjalan terus. Sampai suatu saat, aku merasa sikapnya berubah. Pacarku terasa enggan kuajak ngobrol. Sering dia beralasan capek, atau sudah malam. Kuterima alasannya itu. Setelah hampir setahun di Jakarta, aku balik. Kangen, sama keluarga dan tentu saja sang pacar. Setelah sampai Purwokerto, istirahat sebentar di rumah, aku langsung menemui dia. Ternyata sia-sia aku balik. Waktu kami jalan bareng, dia ngomong, bahwa sebenarnya selama ini aku cuma dianggap sebagai abangnya, bukan pacar. Sebagai abang!. Kenapa baru mengaku seperti itu sekarang. Lantas apa maksud sikapnya selama ini. Padahal dulu saat kutembak, kukatakan bahwa bila ia menolakku, maka tolaklah. Namun jika menerima, tolong jalani hubungan tersebut dengan serius. Dan dia bersedia untuk serius.”

Indra, aku dan Moko diam, terus menatap Ragil yang tengah menghisap batang rokoknya dalam-dalam.

“Sakit hati aku waktu itu. Cuma beberapa hari di sini, terus aku balik lagi ke tempat kerjaku. Di sanalah aku kolaps. Mengaji, sholat, apa semua kutinggalkan. Hampir setiap hari aku mabok. Ganja juga kubeli pas lagi sakit-sakitnya hatiku. Sampai sekarang aku nggak habis pikir, tega-teganya dia nglakuin kayak gitu.”

Sedikit lagi rokok di tangan kanannya habis, namun masih dihisapnya rokok itu.

“Kenapa hidupku koq kayak gini…” ucapnya pahit.

Semuanya diam. Aku tak menyangka perjalanan Ragil akan seperti itu. Sering aku mendengar kisah yang tak beda dengannya yang dialami orang lain. Dan kini teman karibku yang warna nasibnya begitu. Aku mencoba membandingkan dengan lika-liku hidupku. Apakah aku lebih baik? Ataukah lebih memilukan kisah hidupku? Entahlah, tak dapat kuputuskan. Arah yang kami tempuh berbeda, karenanya aral yang melintang pun tak sama. Meski sama-sama masalah.

Benarlah yang dikatakan orang tua, bahwa usia kami adalah masa di mana guncangan terus melanda untuk mendewasakan kami. Jika tak melampauinya, maka cacatlah sayap kami kelak, takkan kuat dikepak untuk mengarungi hidup.

“Wah, maaf ya lama. Tadi jalan-jalan sekalian.” Muncul Jenia dan Mila dengan satu kantong plastik besar.

“Hem, pantesan lama. Belanja dulu ya, Neng?” kata Indra

“Hehehe. Cuma beli makanan sedikit.” Lalu Mila menaruh kantong plastik itu di tengah-tengah kami. “Silahkan, dimakan Mas.”

“Ini aja belum habis kacang rebusnya. Malah ditambah jajanan lagi.” kata Moko. Walau bicara seperti itu, tangannya sibuk memilih makanan yang baru dibeli.

“Yo wis, kacangnya buat kamu aja. Aku milih jajan ini aja.” ucapku sambil membuka bungkus wafer coklat.

“Ya bukan begitu. Aku juga mau yang ini.”

Kulirik Ragil. Meski sempat tersenyum, dia tampak masih memikirkan apa yang baru diceritakannya. Lalu kami sibuk mengunyah makanan-makanan itu. Diam-diam, aku mencuri pandang pada teman-temanku. Mencoba membaca serpihan kisah yang tampak dalam wajah mereka.. Diriku bukanlah pembaca nasih yang ulung, sobat. Namun aku tahu ada warna kesepian, kehangatan, luapan gairah dan rasa syukur pada garis-garis muka mereka berempat

Kembali teringat cerita Ragil. Rasanya aku perlu bantal atau ember, untuk menutupi muka karena malu. Sebab teramat sering aku mengeluh, bahwa aku adalah pemuda yang kehilangan masa mudanya karena direnggut oleh masalah. Ah, betapa manjanya. Orang lain juga terkena masalah dan itu adalah bagian dari hidup yang telah digariskan oleh Allah pada setiap hambanya. Daripada merajuk lebih baik kita memikirkan solusi rintangan tersebut. Setelah hambatan, pasti ada jalan mulus yang nyaman. Dan usai jalan mulus, ada lagi jalan terjal. Begitu terus.

Selanjutnya kami saling mengingat masa-masa ketika kecil. Siapa yang cerewet, mana yang sikapnya aneh. Segala kesan yang dulu ada, kini diungkap blak-blakan. Tak ada yang tersinggung. Semuanya gembira, kecuali Ragil. Dia masih suram. Aku tahu itu, namun kubiarkan. Ia butuh bernafas sejenak, setelah memuat kenangan yang kelam.

Tak lama kemudian, kawanku itu mulai hangat. Dia menyambar lelucon konyol yang dilontarkan kami. Seandainya tak dikekang, mungkin diantara kami ada yang mati ketawa. Hehehe. Rasanya gembira sekali hari ini. Benar-benar menyegarkan.

Beranjak malam, kami pun memutuskan untuk pulang. Esok, semuanya telah dinanti oleh sebukit aktifitas dan pekerjaan. Perlahan, langkah kakiku dan lima temanku bergerak meninggalkan tanah alun-alun. Satu noktah kenangan telah digoreskan di sana.

Semuanya kembali ke rumah Jenia. Di situlah awalan, di situ pula akhiran. Sesampainya kami, aku segera mengambil sepeda yang diparkir di halaman samping. Lalu kutuntun menuju jalan, di mana mereka sedang berkumpul. Kawanan itu saling diam. Lantas, dimulai dari Mila, kami saling bersalaman mengucap sampai jumpa.

“Semuanya, makasih ya. Sudah datang.” kata Jenia.

“Ya. Kalau ada reuni lagi, hubungi saja aku. Nanti aku bantu ngumpulin yang lain.” Ragil menimpali.

“Alah, waktu pertama diajak aja, kamu nggak mau datang kok. Sok-sokan mau ngasih tahu yang lain.” Moko menyerang.

“Sudahlah. Itu kan dulu. Beneran nanti aku mau bantu lho.”

“Bener ya?” pancing Indra.

“Iya,”

“Sip dah. Gampang nanti kalau kita ada acara lagi, kamu kupanggil untuk membantu, Gil.” ujar Jenia. Wajahnya menyiratkan rasa gembira sekaligus kantuk yang berat. Sebentar lagi lampu itu pasti padam.

Bingung aku hendak berkata apa. Terasa berat untuk bercerai dengan mereka, karena setelah malam ini, entah kapan kami bisa bertemu lagi. Satu hal yang tak kusukai dari menjadi dewasa. Mulai kehilangan waktu. Akhirnya kami berpisah. Pulang ke tempat masing-masing. Dalam kayuhan sepeda, hatiku riang bergula madu, menyanyikan tembang tentang teman dan kehidupan di malam yang menuju pekat.

Sobatku!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: