The wish of a water

Hari ini hatiku terasa lebih sejuk. Baru kusadari betapa buruknya hatiku selama ini. Ternyata pandanganku salah. Walaupun ada benarnya, dikit.

“Hehehe”. Yah, inilah aku, seorang remaja yang sedang meraba-raba dalam lorong yang remang. Sebenarnya aku punya lentera, yang cahayanya sangatlah cukup menerangi jalan ini sampai berakhir ditujuan. Tapi sayangnya aku merasa terlalu repot untuk menyalakannya. Meskipun, disaat terdesak, lentera itu kunyalakan jua.

Beginilah nasib orang yang sikapnya setengah-setengah.

Sungguh, tak pernah terlintas dalam pikirku dimasa kecil ingin seperti saat ini. Tak pernah. Ketika kecil, aku adalah aliran air yang jernih menyegarkan. Walau terkadang, airku memerciki mereka yang ada disekitarku. Namun itu adalah cipratan rasa gembira bisa mengalir bebas. Jadi, wajar kan?

Lalu waktu berputar, wilayah yang ku jangkau semakin luas dan, tentu saja, berbeda. Sampai aku tiba di tempat yang tandus hutannya.

“Di sini panas”

Aku terus melaju melewatinya. Dan sampah-sampahpun muncul, ikut mengalir bersamaku. Semakin lama semakin bertumpuk sampah itu, membuat aku jadi bau dan kotor. Ah, kenapa dulu jalan ini yang kutempuh? Menyesal aku. Sudah berat diri ini tuk melangkah lagi. Ingin kembali, tak mungkin waktu terulang. Mau berhenti, berarti melawan takdir. Yang bisa kulakukan ialah terus maju sambil berusaha membersihkan kotoran-kotoran itu. Agar kelak saat tiba di muara, aku kembali menjadi air yang bening, air yang suci dihadapan Penciptaku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: