Telaga nan jernih

Perjalanan manusia itu hitam putih. Terkadang hitam, dimana dia tak bisa melihat mana
yang benar, mana yang salah. Hidupnya tak ada tujuan, selain melangkah membabibuta. Tapi
manusia punya Tuhan, yang akan menuntun kita menuju jalur yang tenang. Disaat kita mendapat
kasihsayangnya inilah, hidup manusia berbalik putih benderang.

Lama aku memikirkan ini. Kedua warna itu bergantian mengisi waktu hidupku. Ketika tubuhku
dipenuhi semangat ibadah, segala maksiat terlihat getir.”Itu dosa. Ayo kita perangi, jangan
sampai mewabah.” Namun saat terjungkal ke lembah kelam, semua pikiran itu tak ada lagi.”Ah,
ternyata dosa nggak semuanya pahit. Beberapa, bahkan banyak yang enak dan nikmat. Nikmati
dulu ah…” Kini aku tak heran kenapa dunia ini penuh perbedaan. Satu orang saja bisa berbeda pikiran,
apalagi seisi bumi.

Yang jelas, aku menyesal setelah menikmati kesesatan. Pertama kali merasakannya, sesal yang
timbul bukan main. Seiring waktu berputar menjadi sedikit saja sesal yang timbul. Itulah sa-
lah satu hasil dari tumbuh kembangku saat ini. Wawasan bertambah tinggi, disisi lain moral
jatuh bangun.

“Hidup penuh dinamika, kawan.” Benar. Tapi bukan seperti ini yang kuinginkan. Kalau tak sa-
lah, kelas 2 SD, Bu…(aku lupa namanya) guru agamaku, pernah menerangkan tentang kehidupan
surga yang indah. Aku terpana. Dalam anganku, betapa enaknya disana, bisa setiap hari makan
snak coklat kesukaanku. Hehehe, betapa polosnya saat itu. Membayangkan betapa lezat disana
mendorong diri ini tuk menjadi salah satu penghuninya. Itu salah satu tekadku dimasa kecil.

Menyenangkan bukan? Sekarang, mari kita lihat 12 tahun kemudian, anak nan lugu telah berubah
Dihatinya berkumpul noktah dosa. Nama Tuhan disebut hanya saat terdesak. Oh, jika bocah tu-
juh tahun itu tahu pasti dia akan menjerit keras-keras.”Siapa dia?! aku tidak kenal.Tak se-
kalipun aku berangan-angan menjadi dia. Pergiii!!!

Saat ini aku sudah bangun. Aku ingat apa tujuanku sebagai makhluk-Nya. Dan akan kujalani ama-
nah itu. Entah aku bisa terjaga sampai kapan. Yang jelas, aku ingin hidup tenang di bawah na-
ungan Tuhanku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: