Maafkan aku, Mia

Aku gelisah. Apapun yang kukerjakan rasanya tak tenang.
“Brugh”
Kujatuhkan tubuhku ke atas kasur. Niatku ingin menenangkan diri, tapi malah jantung ini berdetak kian cepat. Pikiran itu terus memaksaku untuk menurutinya. Dan hampir bulat tekadku untuk segera beraksi. Namun sedikit rasa takut serta suatu suara berhasil menahan gejolak itu. Jadilah aku terombang-ambing dalam kebimbangan. “Arrgh!” dengan kesal kutinju bantal biru yang sedang kugenggam

***
Selasa pagi, di sekolah, beberapa siswa bercengkerama dibangku depan kelasnya. Belum banyak yang datang, baru jam enam lebih sepuluh menit. Aku masuk ke dalam kelas dan memilih bangku di bagian tengah, baris kedua dari depan. Tak lama, Mia datang. Seperti biasa, dengan senyum riang dia menyapaku.
“Pagi bener, Ki.”
“Nggak kok. Aku juga baru nyampe.”
Mia menaruh tasnya
“Eh,aku tinggal dulu ya, KI. Aku mau piket di UKS,” katanya menjelaskan
“Ya udah, tinggal aja,” jawabku
“Makasih. Eki baik deh,” candanya dengan genit
“Dari dulu, tau,”
Mia tertawa. Lalu dia keluar menuju UKS. Kupandangi kepergiannya. Mia, gadis yang cantik, supel dan menyenangkan. Banyak yang menyukainya, termasuk aku. Setiap waktu aku ingin selalu bersama Mia, menikmati indah wajahnya, senyumannya, segalanya….Tapi itu tak mungkin. Banyak yang berpikiran sama denganku. Mereka, tentu saja, maju dengan senjata. Bukannya tanpa modal seperti aku.
Endapan keinginan ini membuahkan sebuah rencana agar apa yang kumau bisa tercapai. Rencana untuk menikmati Mia seorang diri, tanpa membaginya dengan siapapun.

***
Berkali-kali aku menelan ludah. Aku gugup. Hari ini akan kunikmati Mia.Semuanya telah kupersiapkan. Sabtu ini Mia piket sore di UKS. Dia harusi membereskan ruang kesehatan sepulang sekolah sendirian, karena teman piketnya hari itu kebagian shift pagi. Akhir pekan sekolahku cepat sepi karena tak ada kegiatan ekstra. Selain itu, para siswa dilarang “nongkrong” sepulang sekolah, kecuali yang berkepentingan.
Kuingat lagi detil rencananya. Nanti siang aku akan membantu Mia. Lalu, setelah agak lelah, kutawari dia minum yang telah dicampur obat tidur. Pada saat dia tertidur, kukunci ruang UKS dengan kunci yang pasti dibawa Mia. Penjaga sekolah tentu mengira Mia sudah pulang begitu mengetahui pintunya terkunci. Setelah itu…
“Ugh,” rasa tegang pada tubuhku terkumpul pada satu titik.
“Ayolah waktu, berputarlah lebih cepat. Aku ingin segera melakukannya,”bisikku dalam hati. Aku turun dari angkot warna orange di depan sekolah. Aku tiba lebih awal dari biasanya. Saat melewati aula depan sekolah, ada satu artikel di mading yang membuatku tertarik.
“Baca mading dulu, deh”
Disaat membaca itu, kudengar suara motor berhenti. Lalu seseorang turun dan berbicara.
“Suara itu…,”
Penasaran, aku menoleh.

***
“Hufff,” kuhembuskan nafas panjang. Dengan kesal kutarik rambutku sekeras-kerasnya.
“Apa yang sudah kaulakukan! Tak ada lagikah otak dikepalamu, HA!”
“Mia temanmu,teman baikmu! Salah apa dia hingga kau tega begitu?”
Kedua tangan kugunakan untuk menutupi wajah. Aku menyesal. Aku malu. Kurasa diriku takkan punya daya menemui Mia besok. Setan, ya, makhluk itu yang menyebabkan semua ini.
“Apa?! kau menyalahkan aku. Bukankah yang memilih kau? Aku hanya membisikimu saja. Jadi aku tak ada urusan dalam hal ini.”

Kudengar setan tertawa. Sialan. Yah, semua ini salahku. Kenapa menurutinya. Seandainya waktubisa kembali?

Tadi pagi, awal dari pelaksanaan niat jahatku, sekaligus merupakan akhirnya.
Suatu teguran membuat segala yang telah disiapkan menjadi tak berarti. Teguran itu datang ketika aku melihat seorang anak mencium tangan sang ibu, tanda berpamitan sekaligus minta doa restu untuk bersekolah. Mia, anak itu Mia. Dan si ibu mengusap kepala putrinya sambil entah mengatakan apa. Dalam sekejap racun yang melumuri hatiku luntur. Lalu aku jatuh dihantam rasa bersalah. Nafasku terasa sesak. Bergegas kutinggalkan sekolah. Aku tak ingin lebih lama berada di sana.

Di dalam kamar aku terdiam, dengan tangan memeluk kaki.

Dorongan nafsu membuatku berpikir singkat. Kini setelah aku renungkan, sungguh berdosanya aku. Mungkin setelah itu terjadi, dia akan merasa depresi. Sifatnya yang periang berubah menjadi pemurung. Ia pasti menderita batin yang sangat hebat. Frustasi. Dan orang yang frustasi sangat rentan untuk bunuh diri. jika sampai begitu, orangtuanya pasti akan sangat sedih, ditinggal putrinya dengan cara demikian.

“Berapa banyak dosa yang kutanggung akibat melakukan itu? mengotori gadis bersih, membunuhnya secara tak langsung. Kemudian membuat duka kekal pada orangtuanya, yang begitu baik. “

Hanya satu perbuatan, tapi berakibat begitu fatal dan melukai banyak orang. Aku terpekur

“Kenapa aku tak berpikir sampai ke sana ?”

Sekali lagi aku mengucap syukur, karena rencana jahat itu telah gagal. Dalam hati aku berjanji, takkan mengulanginya lagi.

“Maafkan aku, Mia”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: