Let’s get married

Kawan, berapakah umur yang kau inginkan untuk menikah? Ehm, pasti bermacam-macam jawabnya. Pernah teman satu kelasku di STM menceritakan pemikirannya, bahwa dia ingin usia muda sudah berumah tangga. Ketika kutanyakan,”Apa alasannya?”

Dia menjawab,”Agar aku dan anakku bisa lebih akrab. Kalo usianya ga beda jauh kan, rasanya kaya kakak-beradik lho.”

Benar juga, sih. Meskipun menurutku ga sepenuhnya. Kita masih bisa menjadi kawan untuk anak kita meskipun terpaut puluhan tahun. Aku ingin berumah tangga sekitar umur 23. Tadinya sih usia 27, nanti acara pernikahannya pas tanggal kelahiranku, tanggal 27 bulan 7. Jadi klop kan? Tapi kupikir-pikir, kayakya itu terlalu tua. Maka diganti menjadi umur 23.

Sekarang aku sudah 20 tahun hidup di dunia ini. Banyak hal yang aku alami dan pelajari. Walaupun begitu, diri ini masih bimbang, siap apa nggak membina kehidupan baru bersama pasangan tiga tahun lagi? Kenapa bisa gini?! Ya, karena semakin banyak tahu justru aku semakin mengerti bahwa berkeluarga itu tidak gampang.

Dengan kakak atau adikku saja, yang sudah lama hidup bersama dan saling mengenal, masih sering diwarnai konflik, apalagi dengan dia yang “baru kemarin” aku tahu. Juga tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Pastinya aku harus bisa menjadi ayah dan suami yang bisa mendidik, melindungi dan memberikan rasa nyaman pada keluargaku.

Menjadi pemimpin rumah tangga jelas beda dengan pemimpin organisasi atau kepanitiaan. Tanggung jawab yang diemban sebatas memajukan atau menyukseskan kegiatan organisasi. Selain itu, setelah berada diluar kantor dan menanggalkan “baju kebesaran” maka lepas pula status dan tanggungjawab.

Tapi di rumahtangga, dimanapun dan selama terjalin ikatan suami-istri, maka tanggungjawab itu masih tetap ada. Mengelola hal ini jauh lebih kompleks ketimbang urusan kantor. Karena didalamnya melibatkan unsur perasaan yang fleksibel bagai air, menyesuaikan bentuk sesuai dengan kondisi sekitarnya. Nah, menjaga agar air perasaan ini tetap berada dalam keadaan stabil dengan bentuk yang indah inilah salah satu tantangan membina keluarga.

Mungkin karena itulah aku mendambakan pendamping yang lebih matang. Ya, wanita dewasa. Aku menginginkan sesosok insan hawa seperti itu, agar dapat menopang tubuhku saat aku ambruk tak kuat. Supaya bisa menjadi rekan hidup yang tangguh bersamaku.

Senang rasa hatiku ketika memandang wajah wanita dewasa. Dewasa disini dalam arti pemikiran dan sikap lho, bukan yang lain. Awas kalau mikirnya macam-macam! 😀 Hatiku sering berandai-andai, “Ah, semoga istriku kelak mirip kakak itu. Wanita yang sabar dan welas-asih serta tegar.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: