Andaikan kau datang kembali…

Selasa keempat di bulan mei. Lumut hijau bagian pucuknya mulai berwarna kunig tua. Sedangkan warna di dalam rumah itu masih suram. Auranya penuh akan nestapa. Nika merapikan meja makan dengan lap biru. Kedua matanya bengkak, hitam dan murung. Tangannya bergerak tanpa gairah. Kemudian dia mendesah.

“Haaahh…”

***

“Trap,trap,trap” derap langkah kaki terdengar di pagi hari.

Pemiliknya tengah memeriksa isi tas kulit hitam. Setelah dirasa beres, ia segera mengambil kunci mobil dan bergegas pergi. Sambil berjalan keluar ia pamitan pada dua anaknya.

“Damar, Ika, mama berangkat ya”

Yang dipamiti hanya memandang ibu mereka sebentar lalu kembali pada sarapan di atas meja. Tak lama kemudian seorang wanita tua menghampiri keduanya.

“Ini ubi rebusnya, Ndok. Dimakan mumpung masih panas” suaranya lembut penuh kasih sayang

“Nyam,nyam,nyam,nyam. Wah, enaknya setiap hari medang gini ya, mbah” kata Ika sambil tersenyum.

” Ya enaklah. Orang yang paling banyak ngabisin kan kamu” tukas Damar, kakak Ika.

“Lihat tuh, pipinya. Tambah gemuk, kan?!”

“Biarin. Yang penting, makan enak. Ya, mbah?”

“Iya ndak apa-apa. Bagus kan kalau Ika gemuk, jadi bulet kayak Bagong”

Kemudian si mbah terkekeh, sementara gadis berkulit kuning itu cemberut. Menjelang pukul tujuh, Damar dan Ika berangkat sekolah. Mereka mencium tangan Mbah Tusiah. Hal yang tak dilakukan kepada orang tuanya sendiri. Penghuni rumah bercat biru itu bukanlah keluarga yang hangat. Nika dan suaminya terlampau sibuk bekerja sehingga melupakan kedua buah hati mereka. Anak-anakpun sering merasa aneh saat berkumpul bersama orangtua mereka. Ada perasaan asing.

***

Damar melangkah gontai memasuki rumah. Wajahnya kusut. Semalaman ia tak tidur, menjaga Mbah Tus di rumah sakit. Sudah lima hari dia di sana. Kankernya kambuh. Dulu pernah diobati dan dinyatakan sembuh. Namun, tiba-tiba penyakit itu datang lagi. Bahkan memburuk menjadi stadium empat. Wanita yang telah mengasuh Damar dan adiknya sejak kecil itu nampak payah menahan sakit.

Saat hendak masuk kamar, dilihatnya pintu kamar Ika tertutup. Semenjak Mbah Tus sakit, mereka tak sering bersua. Meskipun begitu, Damar tahu bahwa Ika sama seperti dirinya. Sedih dan terpukul. Ia maju. Begitu sampai depan kamar, Damar mendengar isak tangis yang, terdengar seperti ditahan. Laki-laki itu menghela nafas. Berusaha menguatkan jiwanya. Lalu dia masuk ke kamarnya.

Sejujurnya, Kakak Ika itu tengah dilanda ketakutan yang begitu besar. Perasaannya menolak untuk mengakui bahwa Mbah Tus akan pergi. Mbah pasti sembuh, mbah pasti akan berkumpul lagi dengan kami. Demikian kata-kata yang selalu dia ucapkan pada wanita tua itu. Dan Mbah Tus menanggapinya dengan tersenyum sambil mengusap-usap kepala anak asuhnya tersebut. Damar bukan anak manja. Tapi ia tak mau kehilangan cinta kasih Mbah Tus. Perhatiannya, nasihatnya, tegurannya. Tidak peduli dewasa atau anak-anak, bukankah manusia tetap butuh kasih sayang?

Ia sungguh sangat, sangat menyesal. Kenapa tak lebih banyak berbuat baik pada si Mbah?

“Ya Allah, aku mohon diberi kesempatan sekali lagi untuk menyanyangi Mbah Tus. Sekali saja, Ya Allah” ucap Damar lirih.

Perlahan-lahan matanya berair, kemudian air itu menuruni lekukan wajahnya. Biasanya Mbah Tus an melakukan berbagai cara agar ia diam saat menangis. Kini Damar bingung mesti berbuat apa agar si Mbah sembuh.

***

“Mbah mau makan? Ika suapin ya, Mbah,” kata Ika menawarkan

Mbah Tus hanya menggeleng pelan. Bukannya ia menolak kebaikan Ika, tapi sistem pencernaannya teramat sulit diajak kompromi untuk menelan makanan. Cairan bening dalam tabung infus menjadi sumber tenaga Mbah Tus selama menjalani perawatan. Tangan Ika bergetar. Bibirnya berusaha tuk tersenyum sementara matanya merah berair.

Lengan si Mbah terangkat lemah. Jari-jarinya terulur menuju wajah gadis itu. Betapa dia ingin mengusap roman muka yang bening nan lugu, agar terhenti tangisnya. Mereka berdua takkan dibiarkannya bersedih, dengan cara membelai mereka. Namun kali ini ia begitu kesulitan melakukannya. Bagaimanapun kerasnya dia mencoba, wajah sendu itu tak kunjung ia capai. Mbah Tus mulai terisak, sesenggukan kemudian tubuh rentanya berguncang-guncang. Mulutnya menggumamkan kata-kata kesedihan yang tak terucapkan.
Ika kaget. Lehernya bagai dicekik, tak bisa bersuara melihat orang tua yang sangat disayangi seperti itu. Jalinan batin yang kuat membuat Ika memeluk erat Mbah Tus. Mereka berdua menangis.

***

Daun jendela bergoyang pelan di sore hari. Damar tengah duduk menghadap papa dan mamanya. Angin hening sedang merebak dalam ruang keluarga.

“Pa, tolong. Kalau soal biaya yang menjadi pikiran papa, Damar akan menggantinya.”

Pradit, ayah Damar, diam membisu menatap anaknya.

“Yya, kalo sekarang Damar, mme..mang belum bisa,Pa. Tapi…, dengan biaya kuliah Damar!” kata Damar cepat. “Damar cuti kuliah. Anggaran untuk kuliah untuk berobat mbah Tus ke Singapura…”

“Tidak!!. Enak saja kamu ngomong. Memangnya kamu kuliah pake duit siapa. Papa nggangarin itu buat pendidikan kamu. Tapi kalo kamu nggak kuliah berarti ya, nggak ada jatah tuk kamu.Tahu?!” dengan tajam Pradit menghardik Damar.

“Hitung saja Damar hutang sama papa” tukas lelaki itu tak mau kalah.

“Hutang?! Kamu bilang hutang. Bagaimana kamu membayarnya? Makan aja masih dikasih.”

“Sudah, nggak usah diteruskan lagi pembicaraan ini.” Ujarnya seraya bangkit meninggalkan mereka.

Melihat itu, Damar terlihat akan mengeluarkan suara meyakinkan papanya lagi, tapi dengan segera Nika mencegahnya.

“Udah, Damar. Kamu sendiri tahu, kan, bagaimana papamu kalau keputusannya ditentang? Lagipula, omongan papamu ada benarnya. Kalau ke Singapura biayanya mahal. Sementara penyakit Mbah Tus udah parah..”

“Justru itu, si Mbah harus diobati ditempat yang lebih baik.” Dengan emosional Damar memotong pembicaraan Nika.

Nika kaget dibentak anaknya sendiri. Rasa kaget lantas berubah menjadi amarah yang tak tertahankan.

“Keras kepala kamu, Ya?! Memangnya keluarga kita konglomerat, jadi gampang ngeluarin duit begitu banyak cuma buat pembantu. Kamu pikir dong. Papa sama mama kerja keras banting tulang untuk kalian. Eh, malah hasilnya mau untuk orang lain.”

“Daaaar!”

Hati Damar terasa dicambuk dengan tali besi. Tak pernah ia menyangka akan mendengar ucapan seperti itu dari orangtuanya. Pembantu. Orang lain. Jadi, inikah anggapan mereka berdua selama ini pada orang yang telah memberikan hidupnya untuk menyayangi aku dan Ika? Dia menderita di hari tua, yang semestinya dipakai untuk istirahat, demi menjaga kami dari kesepian akan perhatian. Tapi, cuma dianggap pembantu?

Tubuh Damar mendidih. Geram ia pada Nika. Kalau bukan ibu kandungnya, sudah ia hajar wanita didepannya itu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Damar pergi menjauhi Nika.

***

“Kalian dah makan, Ndok”

“Udah, Mbah. Kami tadi makan diluar” jawab kakak Ika, sementara adik Damar diam membisu.

“Kalian sakit? Kok mukanya tirus? kata si mbah lemah, sedang tangannya mengusap tangan Ika.

Diperlakukan seperti itu, emosi Ika yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah. Air matanya meleleh. Entah apa yang mesti dilakukan ia tak tahu. Ia hanya bisa menangis. Dia cuma ingin menangis. Damar tersenyum getir.

“Ika, jangan nangis. Mbah tahu, sebentar lagi Mbah akan pergi. Mungkin kita nggak bisa ketemu lagi. Tapi kan Ika punya kenangan bersama Mbah, juga bareng kakakmu, Damar. Waktu lagi kangen, ingat saja itu. Yang seneng-seneng aja. Jangan yang sedih.”

Si Mbah menelan ludah. Ia sendiri merasakan sedih yang begitu dalam.

“Damar, Ika. Bagaimanapun sikap orangtua kalian selama ini, mereka tetap ayah dan ibu yang selalu mencintai kalian. Sayangi mereka, cintai dan hormati. Jika mereka jauh, maka kamu berdua yang mendekat.Bukankah lebih menyenangkan tinggal dalam keluarga yang hangat. Iya, kan?” Mata Mbah Tus lembut memandang kedua anak asuhnya.

Mereka diam. Lalu Damar mengangguk pelan dan Ika menjawab “ya, mbah” lirih.

“Salah satu kepastian yang akan dialami semua manusia ya, kematian. Entah dia orang yang begitu disayangi ataupun sangat dibenci, pasti akan tiba saatnya untuk menatap maut.”

“Heeehh…. Alhamdulillah, sebentar lagi Mbah akan istirahat .”

“Maaf, mbah.”

“Nggak. Bukan itu maksudnya.” Sela Mbah Tus dengan senyum tersungging.

“Bahagia sekali Mbah bisa bersama kalian. Tak pernah Mbah merasa itu adalah penderitaan. Kalian menangis, merengek, nakal. Semuanya Mbah suka.”

Ika menggenggam tangan si Mbah. Aneh, tangan itu dingin tapi membuatnya merasa hangat.

“Sebenarnya, manusia tak perlu memiliki seluruh alam ini agar bahagia. Bersama dengan orang yang kita sayangi, itu sudah cukup.” Pandangan wanita tua itu kosong saat berbicara.

Kemudian Ika berbaring di samping orang tua itu sambil berkata lirih,

“Andaikan papa dan mama mendengarnya…”

***

Kanker si Mbah semakin parah. Rasa sakit yang timbul sudah tak bias ditahannya lagi. Ia merintih, ia menangis, hampir setiap waktu. Derita wanita itu disaksikan oleh Ika dan Damar. Hanya mereka. Mbah tak punya sanak famili di kota, sedangkan majikannya tenggelam dalam dokumen presentasi. Menyakitkan merasakan penderitaan orang lain, tapi kita tak berdaya menolongnya.

“Sungguh aku tak ingin melihat ini. Tapi mataku tak bisa berpaling menatapnya” rintih batin Ika.

Mbah Tus mengerang pedih. Meringis kesakitan. Badannya menggeliat sebentar. Kemudian hening. Si Mbah membuka matanya, lalu tersenyum pada mereka. Lantas matanya perlahan meredup. Sunyi.

Tubuh Damar lunglai seketika. Wajahnya menjadi beku dan pikirannya kosong tak ada sisa. Disampingnya, Ika berdiri kaku. Bibirnya terbuka, matanya yang hitam dipenuhi rasa terkejut. Tik, sedetik kemudian dia memegang lengan wanita itu dan mengguncangnya pelan.

“Mmbah…, Mbah Tus. Mbaaah…”

“Mmm..bah TUUUUS…” Dia lalu menjerit histeris.

Air mata Ika meledak. Ia menangis sejadi-jadinya. Karuan saja orang-orang berdatangan karena kaget mendengar jeritannya.

“Mbah Tuuus. A..a.. Mbah Tuuuuus. Huhuhu. Mbah Tu…ss”

Para perawat yang datang berusaha menenangkannya.

***

“Di mana Mba?”

“Di sebelah sana, Ibu.” Tangannya menunjuk sebuah ruang dengan pintu yang terukir nama kamarnya.

Bergegas orang yang bertanya itu menuju arah yang ditunjuk perawat. Setiba disana ia memanggil putra-putrinya.

“Damar! Ika!”

Lalu dipeluknya mereka. Namun tak ada reaksi. Kemudian ditatapnya wajah mereka. Ibu itu tercekat. Belum pernah ia lihat anak-anaknya begini.

“Kalian yang tabah ya, Nak. Mama juga merasa kehilangan anggota dalam keluarga kita yang begitu berharga”. Nika membelai kepala Ika, karena tampaknya ia begitu shock dengan kepergian Mbah Tus. Lagi-lagi anak bungsunya tak merespon. Gantian Damar ia ajak bicara.

“Damar, kuatkan hati kamu. Bagaimanapun kita mencoba, jika saatnya telah tiba maka ajal tak bisa dicegah.” Kini ia belai punggung putra semata wayangnya. Namun dia tak bergeming sedikitpun. Nika berusaha tenang dan menguasai keadaan.

“Ayo, Nak, bicara. Kamu orang yang tegar kan?”

Sia-sia. Tak ada tanggapan. Nika pun panik, ia tak tahu mesti bagaimana dalam situasi ini. Sejujurnya ia agak malu pada orang-orang disitu karena ucapannya sama sekali tak ditanggapi. Nika pun berusaha agar terlihat tenang.

Lama terdiam dalam kesunyian membuatnya tak nyaman. Lagipula masih ada tugas yang belum diselesaikan di kantor. Tapi ia tak enak hati bila meninggalkan mereka seperti ini dengan alasan ada pekerjaan.

“…umi wa kagiri naku koudai de ite,” satu lagu mengalun merdu dari handphone Nika

“Siapa?” pikir Nika. Begitu dilihat siapa yang menelpon, wajahnya berubah terang.

“Halo, Pak. Iya, iya. Sekarang? Tidak bisa diundur Pak? Baik, Pak. Saya segera ke sana.”

“Pip”

Dipandangnya mereka berdua yang tak menatapnya.

“E…, Nak. Mama ingin menemani kalian, tapi…” berhati-hati Nika mengatakannya. “Ada hal penting yang menyangkut banyak orang. Dan itu tidak bisa ditunda. Karenanya Mama keluar sebentar, ya. Nanti Mama balik lagi.”

Tanpa menunggu jawaban, Ibu kandung Damar dan Ika segera bangkit, menyempatkan mencium kening putra-putrinya, lalu bergegas pergi. Di luar…

“Ah, begini lebih baik.”

***

Keesokan harinya, Mbah Tus dimakamkan. Keluarga si Mbah dikampung telah dikabari sebelumnya. Namun mereka tak bisa berangkat ke kota, terkendala masalah biaya dan waktu. Jadilah hanya sedikit orang yang mengantar. Selepas dari pemakaman, Ika dan Damar mengurung diri di kamar. Keduanya merasa aneh, seolah dunia ini berubah. Meski sebenarnya merekalah yang berubah.

Sejak itu Ika tak mau sekolah. Semangatnya musnah. Kalaupun berangkat, ia tak sampai ke sekolah. Tapi melamun di pusara Mbah Tus, atau lokasi dimana mereka pernah mengunjunginya bersama. Sedangkan Damar, nilai IP-nya jeblok. Tentu saja, karena ia tak sekalipun menjamah buku-buku pelajaran selama ujian. Akibatnya Pradit marah besar. Namun Damar tak peduli. Kata-kata pedas Nika dan Pradit dia acuhkan.

Begitu sedihnya mereka kehilangan Mbah Tus, sampai pada suatu hari, keluarga itu melihat Ika…tewas. Tangannya memeluk foto si Mbah tengah menggendongnya. Disekeliling tempat tidur berceceran bubuk putih. Heroin.

Nika menjerit histeris. Pradit terperangah. Dan Damar, jatuh terhempas ke titik nadir untuk kedua kalinya.

***

Mata Nika sembab. Dadanya masih terasa sesak memikirkan kepergian Ika yang tragis. Kembali air mata Nika jatuh. Hatinya begitu lara. Setelah tenang, dia beranjak menuju meja belajar putrinya. Dirapikan barang-barang yang ada. Lalu jemarinya menarik laci kayu dibawah.

“Sreeett”

Ada banyak benda disitu. Jepit rambut warna kuning, pernak-pernik lucu favorit para gadis, patung keramik indah-sepertinya hadiah ulang tahun darinya. Namun Nika lupa kapan memberikannya-yang begitu menyenangkan menatapnya. Di bawah tumpukan, Nika menemukan seruling kecil dari bambu yang dikerjakan oleh amatiran, karena bekas potongannya kasar. Selain itu, lebar antara lubang satu dengan yang lain tidak sama. Seruling itu disingkirkan dari perhatiannya. Pandangan sayu itu beralih pada diari bernoktah coklat.

Ia raih. Kemudian ia duduk di kursi kayu, lalu dia buka lembar pertama. Halaman-halaman awal berisi kisahnya sebagai gadis remaja yang mulai disapa cinta. Lembar demi lembar terus dijelajahi. Beberapa kata yang terlihat sekilas mengusik rasa ingin tahunya. Kemudian dia baca tulisan itu.

“Nyebelin banggeet guru tu. Ngasih tugas sulitnya minta ampun. Apa nggak ada yang lain, selain bikin alat musik tradisional?!”

“Duh, gimana ya? Dua hari lagi dikumpulin tapi tugas belum kelar. Ka Damar payah lagi, dimintai tolong tuk mbuatin seruling, malah jadinya tongkat berlubang banyak. Nggak sekalian aja bikin gagang sapu! :[“

“Asyik…! Tugasnya selesai. Untung ada Mbah Tus. Coba dari dulu aku bilang ke Mbah. Waktu aku lagi uring-uringan di kamar, Mbah masuk dan nanya aku ni kenapa. Abis denger ceritaku, Mbah diam bentar. Lalu aku diajak ke belakang. Mbah ngambil sapu ijuk. Pikirku,”Lho, tuk apa sapu ini?” Trus Mbah njelasin maksudnya. Sapu itu mau diambil gagangnya yang dari bambu. Nah, ntar gagang itu dibikin seruling. Mbah masuk ke gudang bentar, lalu keluar lagi bawa peralatan. Kami buat seruling bareng. Susahnya bukan main, tapi asyiknya, wuiih gila. Akhirnya kelar. Ya, walaupun ga bagus banget, tapi lumayan lah. Ah…, leganya. Untung, dan selalu ada Mbah Tus. Pokoknya you’re my hero, Mbah.”

“Apa ini? Kapan ini terjadi? Kenapa aku tak tahu?!” pikir Nika tak habis pikir.

Dibalik lagi halaman diari itu. Berbagai cerita, tapi paling dominan kisah bersama Damar dan Mbah tus. Hanya segelintir isi buku itu tentangnya, ibu kandungnya. Menjelang akhir diari, dia menemukan catatan-catatan yang tak pernah diduganya selama ini.

“Mbah Tus sakit parah. Udah beberapa hari ini nggak dibangunin Mbah. Ya, Allah, semoga Mbah Tus cepet sembuh. Jangan sampe kenapa-kenapa. ”

“Tadi aku nemenin Mbah Tus bareng ka Damar. Mbah kesakitan banget. Aku nggak tahu mesti gimana. Kalo ada yang bisa kulakuin tuk Mbah, apapun itu, sesulit apapun pasti kulakuin. Yang penting Mbah cepet pulih.”

“Dokter bilang kemungkinan Mbah sembuh kecil banget. Dia udah nyerah. Gimana ini? Aku nggak mau pisah sama si Mbah. Siapa yang nemenin aku dirumah waktu nggak ada Ka Damar? Kalo ada masalah, siapa yang bakal aku jadikan teman curhat? Ya Allah, Ika tahu Ika banyak dosa. Tapi Ika mohon jangan dihukum dengan pisah dari Mbah.Ya Allah, Ika mohon…”

Ada bekas tetesan air di kertas itu. Mendadak darah Ika menggelegak. Mengapa Mbah Tus yang bukan siapa-siapa mendapat perhatian begitu besar dari Ika? Sementara dirinya seolah orang luar. Ketika ia sakit, Ika hanya menulis pendek,” Hari ini mama sakit. Dia nggak masuk kantor dan seharian di rumah.”

Namun Nika segera sadar, bagaimana sikapnya selama ini pada mereka. Dia beranggapan bahwa kualitas kebersamaan lebih baik daripada kuantitas. Cukuplah berkumpul seminggu sekali asal berarti. Tapi ternyata pendapat itu salah. Atau memang momennya yang tak berkualitas?

Rasa sesal datang menyergap dengan cepat. Ia tak bisa berkutik sama sekali. Dan ia menyerah untuk mencoba membela diri.

“Aku salah! Dan aku memang salah!” ucapnya sambil menangis. “Kerja keras aku mencari uang demi anak-anakku. Tapi kalau begini jadinya, untuk apa…? Untuk apa semua harta itu?! Huhuhu”

“Ika, maafkan mama, sayang. Mbah Tus, maafkan aku…”

***

Nika berhenti dari pekerjaannya. Jabatan, reputasi, uang, semua dia lepas. Kini dia ingin memperbaiki hidupnya dengan fokus merawat Damar. Akibat kematian Ika, setelah sebelumnya ditinggal Mbah Tus, Damar menjadi terganggu jiwanya. Beberapa kali dalam seminggu dia diajak ke tempat seorang motivator terkenal. Namun sampai kini belum ada hasilnya.

SELESAI

Kisah ini berdasarkan kejadian nyata yang dialami oleh seorang ibu(saya lupa identitasnya) yang curahan hatinya saya baca ketika sedang ngeNet. Nama para tokoh merupakan rekayasa, bukan nama sebenarnya.

“Hidup manusia diwarnai kesalahan, yang bermuara pada rasa sakit serta penyesalan. Namun akan lebih menyakitkan dan menyesalkan jika kesalahan itu tak membuat manusia menjadi lebih baik”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: