Aku, The…

Nafasku memburu. Rasanya jantungku mau pecah, tapi ku hardik kakiku agar terus berlari. Kupandang bumi didepan, masih terlihat bukit pasir di temani samudra pasir menghampar.

” Berapa jauh lagi aku mesti berlari? di mana kampung itu?” tanyaku sambil mengusap peluh di dahi.

Aku terhenyak dekat kumpulan kaktus besar. Tak kupedulikan kalajengking yang berjalan melintas.Tubuh yang payah membuat mataku kian lama makin berat dan menutup. Aku tertidur.

“Uaaarrrgghhh.”

Aku terbangun. Nafasku naik-turun. Disaaat kesadaranku belum pulih sepenuhnya, aku segera berlari. Terbayang kembali dikepalaku, kata-kata Lan Cita

“eru, cepatlah kau pergi ke desa Lbuan. Beritahu penduduk desa untuk segera mengungsi dari sana. Tak lama lagi akan terjadi badai gurun, dan kemungkinan besar melewati Lbuan.”

Menurut Lan Cita, badai itu akan tiba dua-tiga hari lagi. Dan sekarang perjalanan ini sudah menempuh hari pertama. Aku berlari dan berlari. kakiku terseok-seok membawa tubuh ini. Aku haus. Kuraih gentong tanah dipinggang, kucabut dari tempatnya, lalu kubuka dan masuklah aliran air segar ke dalam kerongkongan

“Ahh, betapa segarnya,” batinku

Jika tak ingat bahwa perjalanan masih jauh, sudah kuhabiskan air itu. Puas menghilangkan dahaga, kulanjutkan mencapai tujuan. Entah sudah berapa jauh berlari, tak kuhiraukan. Yang ada dalam benakku adalah segera tiba di desa Lbuan.

“Semoga masih sempat,” ucapku lirih.

Detik demi detik berputar cepat. Aku sampai di Pusaran Pasir, wilayah di gurun Etib yang pasirnya membentuk pusaran seperti cakram, pertanda perjalananku mendekati akhir. Namun permulaan dari bangkitnya rasa takut yang besar. Berjalan di bawah tebing dan semacamnya merupakan phobia bagiku. Tentu saja, salah mendatangi Pusaran Pasir. Pola Pusarannya menciptakan lorong sempit diantara gundukan pasir yang menjulang tinggi.

Tanganku gemetar. Rasanya isi dalam perut ikut berputar seperti pusaran pasir itu.

“Disaat manusia terkurung oleh ketakutan yang amat sangat, ingatlah satu tujuan dalam hidup yang belum kau raih. Dengan mengingatnya,entah darimana, akan timbul tenaga spiritual yang membangkitkanmu.” Kugigit bibir bawah.

“Kata-kata yang bagus. Dasar si LOx penipu!”

“Dengan mudah ia berkata begitu karena dia tak pernah sekalipun berada dalam posisi ini.”

Aku mendengus. Bagaimanapun, sebagian diriku mulai merespon “petuah” LOx. Tak ingin rasa takut menjarah keberanianku, tanpa pikir panjang aku segera berlari melalui tebing pusaran. Lariku sangat cepat,sedemikian cepat hingga menimbulkan getaran kuat sampai…

“Brrruhhg”

Aku menoleh. Seketika mukaku berubah pias melihat pasir di belakangku longsor. Longsor ini seperti mengejar, karena saat ku tengok lagi dia masih dekat denganku. Padahal tenaga sudah terkerahkan mendekati limit.

“Apa kubilang ?! Lox itu penipu. Dia cuma jual kecap. Sekarang terasa akibat mengikuti petuah busuknya” Umpatan terus keluar dari mulutku disahuti runtuhan pasir. Dan…

Kena !

Aku terkejar. Tubuhku berguling-guling jatuh. Sampai di bawah, dalam kondisi terhuyung-huyung aku menghindari serangan pasir dari atas.

“Ups”

Hampir saja kepalaku kena gumpalan pasir sebesar buah nangka. Benda itu hanya terpaut beberapa senti dari hidungku. Mati-matian aku bertahan sampai akhirnya selamat.

“Ketakutan biasanya diikuti dengan kekuatan dashat untuk melawannya”

Lox pernah mengatakan ini sambil mencukur rambut hidungnya saat aku di depannya sedang makan. Dia manusia jorok yang menyebalkan.

***

Tertatih aku kembali berjalan. Tak ada waktu untuk istirahat, karena sekarang malam kedua sejak aku berangkat dari dNgutan. Berarti, kemungkinan esok badai itu kan tiba. Bulan di atas pelit membagikan kemilau sinarnya.

“Haah,hah,hah” nafasku kembang kempis.

Bahan bakar yang ada semakin menipis. Mataku sakit untuk melihat. Samar-samar kulihat sekeliling.

“Padang batu…”

Kilatan rasa gembira berpijar di otakku, dibarengi dengan ledakan emosi yang membuncah. Berkali-kali bibir ini mengucap syukur. Senyuman ceria terkembang. Tak lama kemudian lenyap. Muncul seringai. Kali ini aku tak ingat lagi kata-kat sok tahu LOx. Sekujur tubuh gemetar dan dingin. Beda dengan phobia, yang sekarang kutemui jauh lebih menyeramkan. Pertemuan dengan kematian.

Penglihatan yang samar-samar membuatku tak menyadari mereka sejak awal. Serigala, Berada dalam jumlah besar menghadang di depan. Tetesan liur mereka pertanda kan menetesnya darahku. Lemas sudah diriku. Dekat, dekat dan semakin dekat mereka menghampiri aku. Entah kenapa aku ingat LOx.

“Oh, LOx. Dengan kondisi seperti ini apa kiranya yang kan kau katakan” tanyaku, lebih ditujukan pada diri sendiri.

“Jangan menyerah!”

Aku terpekik. Jawaban itu, suara Lox, terasa nyata sekali. Kulihat sekeliling. Mencoba mencarinya. Tak ada. Pikiranku kembali pada dua kata itu

“Jangan menyerah”

” Lox”

“Seriga…”

Dentuman solusi menggelegar cepat. Segera isi tas kutumpahkan semua. Tanganku mengobrak-abrik barang-barang yang berserakan. Sampai mataku berbinar menatap benda kecil berwarna biru. Kuambil benda itu. Klanm namanya. Sebuah benda oval yang berisi air khusus, dengan selaput bening kecil di tengah batang. Kami menggunakannya untuk menyimpan pesan, dengan cara menggenggamnya lalu memikirkan apa yang mau kami simpan. Demikian pula cara membacanya tinggal memegang klanm maka apa yang tersimpan bisa kita ketahui.Selesai menyimpan pesan, ku bebat klanm di tangan kanan sambil menghela nafas.

“Aku belum ingin mati. Masih banyak yang ingin kulakukan. Tapi tak bisa kubiarkan mereka esok mati.”

“Kematian bukanlah akhir dari hidupnya jiwa,benar?”

“Hehehe. Kali ini aku setuju denganmu, kawan”

Kedua mataku menatap datangnya gerombolan serigala itu. Mereka terlihat begitu kelaparan. Mungkin dagingku yang sedikit bisa membantu mengganjal perut mereka. Yah, hitung-hitung balas jasa serigala-serigala itu akan membantuku. Lagipula aku sudah tak kuat lagi berjalan sampai Lbuan. Lebih baik kerja sama dengan para mahluk bertaring.

“Ayo,kemari. Kalian lapar kan?

Dua serigala terdepan segera menerkamku

“Grrrhh.Auarrggah!”

“Brukkk”

“Ugghh”

Sakit sekali rasanya. Reflek, aku ingin menghalau. Namun alam pikiranku mencegahnya. Rencana ini pasti berhasil. Aku yakin.

“Rasanya keren juga menjadi lilin yang terbakar tuk menerangi sekitarnya, eh!

Kemudian malam yang sangat pekat datang, tanpa ada secercah cahayapun yang bisa kulihat.

***

Debu berterbangan. Tak terlihat apapun di depan selain pasir yang berubah hidup setelah dihinggapi angin badai, menjadi raksasa dan mengamuk. Penduduk desa berlindung di dalam gua karang. Kebanyakan anak-anak meringis ketakutan.

“Mereka lebih menakutkan daripada sebelumnya” Kata seorang pria dengan telinga berwarna hijau

“Kau benar, Syall. Untunglah kita pergi tepat waktu” Tei berbicara

“Apa jadinya bila Klanm terlambat dibaca? sungguh mengerikan. Sayang rakyat Lbuan tak bisa memberi lebih padanya, selain ucapan terima kasih”

Mereka termenung

Pagi hari saat matahari baru muncul sedikit di timur, keributan kecil muncul di pinggir desa Lbuan. Sesosok tubuh tengah diseret kawanan serigala Ew. Serigala ini mempunyai kebiasaan untuk membawa makanannya ke sarang mereka, yang terletak di lembah di seberang Lbuan. Orang-orang segera menyelamatkan tubuh itu. Dari sisa tubuhnya yang tercabik-cabik, ditemukan Kalnm terikat pada tangannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: