<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Life Blue</title>
	<atom:link href="http://mizublue.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mizublue.wordpress.com</link>
	<description>Sekawanan remah-remah kehidupan yang mengapung di laut biru</description>
	<lastBuildDate>Wed, 30 Mar 2011 04:46:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mizublue.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Life Blue</title>
		<link>http://mizublue.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mizublue.wordpress.com/osd.xml" title="Life Blue" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mizublue.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>dty</title>
		<link>http://mizublue.wordpress.com/2011/03/30/dty/</link>
		<comments>http://mizublue.wordpress.com/2011/03/30/dty/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Mar 2011 04:46:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>foreverbeach</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mizublue.wordpress.com/2011/03/30/dty/</guid>
		<description><![CDATA[trtgr<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=143&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>trtgr</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mizublue.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mizublue.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mizublue.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mizublue.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mizublue.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mizublue.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mizublue.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mizublue.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mizublue.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mizublue.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mizublue.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mizublue.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mizublue.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mizublue.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=143&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mizublue.wordpress.com/2011/03/30/dty/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/743357caddb40e353fd74a3ae01debf8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">foreverbeach</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua : Leku dan Biya</title>
		<link>http://mizublue.wordpress.com/2010/10/11/dua-leku-dan-biya/</link>
		<comments>http://mizublue.wordpress.com/2010/10/11/dua-leku-dan-biya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Oct 2010 18:59:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>foreverbeach</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rintik Hujan]]></category>
		<category><![CDATA[dua kucing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mizublue.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Belang hitam dan kuning telon, sepasang kucing itu merangkak lambat. Demikian payah laparnya, sampai gemetaran kaki-kaki mereka. Namun, begitu didengarnya teriakan para prajurit, secepat mungkin mereka sembunyi, lari tersandung-sandung. Wajah keduanya bagai dibedaki ketakutan. “Cepat! Sebelum gelap kita harus sampai di benteng.” teriak seorang prajurit. Dua kucing itu bersembunyi disela dedaunan kunir yang layu. Jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=140&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belang hitam dan kuning telon, sepasang kucing itu merangkak lambat. Demikian payah laparnya, sampai gemetaran kaki-kaki mereka. Namun, begitu didengarnya  teriakan para prajurit, secepat mungkin mereka sembunyi, lari tersandung-sandung. Wajah keduanya bagai dibedaki ketakutan.</p>
<p>“Cepat! Sebelum gelap kita harus sampai di benteng.” teriak seorang prajurit.<span id="more-140"></span></p>
<p>Dua kucing itu bersembunyi disela dedaunan kunir yang layu. Jika saja ada seorang diantara prajurit itu yang menengok, pastilah sosok si Belang dan Kuning telon tampak, karena demikian jarangnya daun-daun itu. Untunglah tak ada yang melakukannya. Setelah pasukan itu menghilang dari pandangan, Leku si kuning telon dan Biya si belang hitam, keluar beringsut-ingsut. Biarpun mereka sudah tak ada, keduanya masih merasa ketakutan. Didorong rasa takut, kedua kucing itu berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu, mengalahkan rasa lemas karena lapar yang mereka derita.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Awalnya Leku dan Biya hidup bahagia. Mereka dipelihara oleh satu keluarga seniman. Tuan mereka demikian baik padanya. Ke mana-mana pastilah keduanya dibawa serta. Semula Biya yang dirawat oleh mereka, tepatnya oleh anak lelaki keluarga itu yang bernama Sutan. Barulah Leku menyusul, sebagai hadiah dari kerabat dekat keluarga itu, dan diberikan pada Nila, adik Sutan. Masa itu adalah zaman dimana perang sama seperti musim, setahun terjadi dua kali. Beragam latar belakangnya. Sengketa warisan tahta, balas dendam, sampai perluasan wilayah.</p>
<p>Tak terkecuali Negeri Karo, tempat keluarga Sutan hidup. Karo diserang dua musuh sekaligus yang ingin menguasai tanah subur negeri itu. Kekacauan pun timbul. Ribuan rakyat jatuh terpedang. Yang masih selamat dan kuat bersatu melawan penjajah. Tiada lagi ketenangan di dalamnya.</p>
<p>Ibu Nila tewas dibunuh pasukan musuh. Yang lainnya kemudian memutuskan untuk mengungsi mencari tempat aman. Kucing peliharaaan mereka terpaksa ditinggal karena tuannya tak sempat lagi mengurusi. Sejak itu, dimulailah kehidupan Leku dan Biya seperti sekarang ini.</p>
<p>Berbulan-bulan kedua hewang itu melangkah tiada tujuan. Mengais sampah yang jarang ada sisa makanan terbuang. Terbirit-birit lari sembunyi dari prajurit kejam yang iseng membunuh hewan tak bertuan. Pernah mereka saksikan, seekor anjing dipenggal kepalanya karena rupa anjing itu tak disukai oleh si prajurit.</p>
<p>Sudah lebih dari tiga hari tidak ada makanan yang masuk ke perut kucing hitam dan kuning itu. Hanya air yang mengganjal lapar, sampai mereka muntah saking banyaknya air yang mereka minum. Saat itu, Leku hampir tak bisa berjalan. Tenaganya habis. Oleh Biya, disemangatinya ia untuk terus maju dengan mengatakan bahwa mereka akan segera menemukan makanan. Namun Leku tak bergeming. Melihat itu, Biya lantas menjilati dengan penuh kasih sayang wajah dan kepala Leku. Ia sungguh tak ingin melihat temannya itu mati, seperti dulu saat ia melihat induknya mati kelaparan sebelum dirinya dipungut oleh keluarga Sutan.</p>
<p>Terus dijilatinya Leku. Biya tak khawatir air liurnya kering karena memang sudah habis liur dimulutnya, sebab lama tak menyentuh makanan.</p>
<p>“Miaw&#8230;”</p>
<p>Biya mengeong pelan memanggil temannya. Tapi yang dipanggil tak menyahut. Matanya terpejam, sedangkan helaan nafasnya pendek-pendek. Hal itu membuat Biya panik. Satu kaki depannya menggoyang tubuh Leku. Leku memberi jawaban dengan membuka kedua matanya perlahan, setelah itu menutup lagi. Biya yang belang lalu berkata pada Leku, agar dia bertahan. Dirinya hendak mencari makanan untuk mereka. Segera kucing itu berlari mengerahkan sisa-sisa tenaganya. Ia sendiri bingung mau mencari ke mana.</p>
<p>Hampir dua jam berlalu. Leku yang hilang setengah kesadarannya, mendengar langkah kaki terseret. Langsung terlintas wajah prajurit yang memenggal kepala anjing. Tapi dirinya sudah tak bisa ke mana-mana. Kalaupun bisa, itu juga percuma, dia tidak akan lolos dari kejaran orang itu. Walau begitu, dibukanya mata untuk melihat seperti apa tampang orang yang datang. Apa yang terlihat membuat dirinya terperangah. Sesuatu yang besar dan tampak bekas darah tengah diseret oleh Biya.</p>
<p>Semakin dekat, semakin jelas benda itu. Itu adalah mayat! Mayat seorang nenek renta yang mati dengan leher hampir putus. Dengan nafas terengah-engah dan wajah lelah, Biya menarik tubuh itu sampai di depan Leku. Setelah itu mukanya berbinar.</p>
<p>“Leku. Makanlah. Ini aku dapat daging. Cukup untuk kita berdua selama tiga hari, mungkin lebih.”</p>
<p>Leku bergiliran memandang ke arah Biya dan mayat.</p>
<p>“Memang sudah tak segar. Tapi kurasa masih dapat dimakan. Ayolah, bukankah kau sudah teramat lapar?!” sambil berkata begitu Biya tersenyum.</p>
<p>Leku enggan memakannya. Namun ia tak ingin melukai hati Biya, maka dicobanya menggigit daging di bahu. Baru sampai di dalam mulut, daging itu segera dimuntahkannya.</p>
<p>“Whoekk.”</p>
<p>Biya pun jadi cemas melihatnya.</p>
<p>“Kenapa, kawan?”</p>
<p>“Sungguh aku tidak bisa memakannya. Tubuh ini memiliki aroma yang sama dengan tuan kita, aroma orang baik. Tak sampai hati aku melakukannya.” Leku berkata sendu.</p>
<p>Biya terdiam mendengarnya. Sayang hewan tak bisa menangis. Seandainya bisa, pastilah aku saat ini sudah menangis.</p>
<p>“Sudahlah, Leku. Jangan pikirkan hal itu. Lagipula nenek ini sudah tak bernyawa. Tak inginkah kau bertemu kembali dengan tuan kita yang baik hati?” Biya berusaha membujuk.</p>
<p>Mendengar ucapan itu terbitlah harapan dalam diri Leku. Tentu saja ia ingin bertemu lagi dengan tuannya. Tak terbayangkan rasa sedihnya ketika mesti berpisah dengan mereka. Kemudian ia mencoba memakannya sedikit demi sedikit. Terasa organ dalam perutnya menolak menerima daging itu, tapi dipaksanya juga untuk masuk.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Kucing Polang dan belang itu terus berjalan. Mereka tak tahu mau ke mana. Keduanya berharap bisa berjumpa lagi dengan tuannya dalam langkah kaki mereka. Dan langkah kaki mereka  pun terus terayun.</p>
<p>Sepanjang pencarian itu, mereka melihat banyak hal. Banyak hal, hasil dari pertikaian para manusia. Sangat ngeri mereka memikirkannya. Hewan pun bila berselisih tak sampai membunuh pihak yang tak terlibat. Kenapa manusia bisa sekejam ini?</p>
<p>Suatu hari, Leku dan Biya menjumpai iringan pengungsi yang hendak pergi ke utara. Di sana kondisinya lebih stabil ketimbang daerah lain di Karo, karena keluarga raja tinggal di situ. Rombongan pengungsi itu berjumlah tak sampai seratus orang. Tiba-tiba mata Biya mengejap. Dia melihat sesuatu, dan lari memburunya. Leku yang kaget segera menyusulnya. Lalu terjadilah keributan dalam rombongan itu. Seorang pengungsi berteriak lantaran kakinya diterkam kucing. Pengungsi itu menendang-nendangkan kakinya agar kucing itu pergi. Bukannya pergi, si kucing malah menggigit pula. Ditambah ada seekor lagi yang datang. Kebanyakan tak peduli dengan apa yang terjadi padanya. Hanya ada satu orang yang mendekat hendak menolong.</p>
<p>“Kakak tolong aku. Dia tiba-tiba menyerang.” katanya sambil menunjuk ke arah penyerangnya. Yang dipanggil kakak itu melihat ke arah yang ditunjuk adiknya. Terkejutlah dia.</p>
<p>“Biya!” ucapnya tak percaya.</p>
<p>Biya ganti menuju orang itu. Diusapkan kepalanya pada kaki laki-laki tersebut. Si adik menyadari apa yang terjadi. Jika ada dia maka&#8230;</p>
<p>“Miawww” Leku melompat ke dalam pangkuanya.</p>
<p>“Leku!” lalu dipeluknya kucing itu. Spontan dia menangis haru, tak menyangka akan bertemu hewan peliharaan kesayangannya. Orang-orang melewati mereka tanpa acuh pada apa yang terjadi. Dan mereka juga tak menghiraukan orang-orang itu.</p>
<p>“Bagaimana kalian bisa menemukan kami?” kata laki-laki yang ternyata Sutan. Sesungguhnya ia tak butuh jawaban karena sadar yang ditanya takkan bisa memberi jawab.</p>
<p>Sementara adiknya, Nila, menangis tersedu-sedu. Dan Leku berusaha menenangkannya dengan menggesekkan kepalanya di pipi Nila sambil mengeong lirih.Cukup lama seperti itu, sampai Sutan tersadar bahwa rombongan pengungsi sudah jauh terlihat.</p>
<p>“Nila, Nila. Kita harus segera menyusul yang lain sebelum tertinggal jauh.” kata Sutan sambil mengajak adiknya berdiri.</p>
<p>“Ayo, sekalian kita bawa mereka.”</p>
<p>“Jangan! Mereka tak boleh ikut serta.”</p>
<p>“Kenapa, Kak?” tanya Nila heran.</p>
<p>“Kita tak bisa membawanya, Nila. Selama ini saja, kita kesulitan mencari makan buat aku, kamu dan ayah. Bagaimana kita nanti mengurus Biya dan Leku? Selain itu kakak khawatir mereka akan membuat masalah dengan mencuri makanan pengungsi lain ketika mereka lapar dan kita tak bisa memberinya makan.” Sutan berusaha menjelaskan alasannya pada Nila.</p>
<p>“Apakah kakak tidak kasihan pada mereka? Mungkin mereka telah mencari kita selama ini. Dan kini saat sudah bertemu, kita meninggalkan begitu saja.”</p>
<p>“Adikku, berapa banyak orang sekarat kelaparan yang kita biarkan selama ini? Kenapa kita acuhkan mereka? Karena jika kita menolongnya, maka kita yang akan mati kelaparan.”</p>
<p>“Segalanya serba sulit sekarang ini. Ki ta mesti tepat bersikap agar bisa bertahan hidup.”</p>
<p>Nila diam tak mampu berkata-kata lagi. Dia sedih meninggalkan mereka berdua. Tapi apa yang dikatakan Sutan benar. Tidak mungkin dia memperhatikan kucingnya, sementara ayah yang sekarang lemah dan kakaknya diabaikan.</p>
<p>“Lekas, Nila.” Sutan setengah memaksa adiknya untuk segera pergi menyusul yang lain. “Jika mereka ikut, bisa saja mereka dibunuh untuk dimakan. Biya dan Leku lebih aman di sini. Berdoa sajalah agar keduanya selamat.”</p>
<p>Dengan sedih dipandangnya kedua kucing itu. “Maafkan kami. Tapi kalian tak bisa ikut bersama dengan kami. Kalian berhati-hatilah, dan tetap hidup.” Lalu Nila dan kakaknya berlari menyusul para pengungsi. Leku mengikuti bersama Biya. Mereka tak mau berpisah dari tuannya. Sambil berlari, Sutan dan Nila berteriak menyuruh kucingnya berhenti mengejar. Tapi mereka tak mau berhenti dan terus membuntuti. Akhirnya Sutan mengambil sejumlah batu. Dilemparnya batu-batu itu ke arah Biya dan Leku. Setelah berkali-kali dilempari, akhirnya sebuah batu mengenai kaki belakang Biya. Biya pun mengeong kesakitan. Larinya terhenti. Melihat itu, Leku berhenti pula. Ia tak ingin meninggalkan temannya, walau dia juga mau mengejar tuannya. Ketika dilihat, Sutan dan Nila sudah pergi jauh meninggalkan mereka berdua.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Semakin banyak yang mati. Tapi perang terus berlanjut. Para penjajah terus mengirim pasukannya untuk menaklukkan semua wilayah Karo. Tak terpikir oleh mereka jumlah korban tak bersalah yang jatuh.</p>
<p>Walaupun masih hidup, tapi hati dua kucing itu terasa mati. Keduanya berduka tidak bisa bersama manusia yang telah mengasuh mereka dengan penuh kasih sayang. Padahal sudah susah payah mereka mencarinya. Meski begitu, mereka tidak sedikit pun membenci Sutan dan Nila. Keadaanlah yang membuat semuanya jadi begitu.</p>
<p>Memikirkan itu, semakin besar kebencian Biya dan Leku pada orang-orang yang menyebabkan terjadinya perang. Tak pernahkah terpikir bahwa oleh mereka, bahwa ambisinya akan menghancurkan banyak kehidupan.</p>
<p>Setelah ditinggal oleh tuannya, dua kucing itu melangkah tak tentu arah. Tiada lagi tujuan yang hendak dicapai. Kaki Biya masih pincang terkena lemparan batu oleh Sutan. Karena itu perjalanan mereka tak bisa cepat. Untunglah mereka tidak kesulitan lagi mendapat makanan. Banyak mayat, dan kini mereka tak segan untuk menyantapnya, sebab tidak ada pilihan lain. Itupun mesti berebut dengan kawanan gagak, anjing dan terkadang: manusia.</p>
<p>Suatu sore, mereka sedang mengerumuni tubuh dingin seorang pria. Saat sedang asyik itu, banyak penduduk berlarian. Wajah mereka ketakutan. Tapi keduanya acuh, dan tetap mengoyak daging mangsanya. Daging terus dikunyah sampai ada yang datang.</p>
<p>“Crassh.” kepala Leku berputar menggelinding. Ada darah. Merah.</p>
<p>Seorang prajurit memandang senang pada pedangnya yang masih tajam. Darah berceceran dari mata pedang itu. Kemudian si prajurit mencemooh Leku yang tubuhnya diam tak bergerak. Mengatainya sebagai kucing jelek yang membuat dirinya muak. Habis berkata begitu, dia dan beberapa kawannya tertawa tergelak.</p>
<p>Sementara Biya tercekat melihat mata Leku yang menatapnya kosong. Dia menjerit, ingin menangis, lalu menggeram penuh amarah. Cukup sudah penderitaan yang dialami olehnya akibat sikap kejam orang-orang gila perang itu. Biya berlari menerjang si prajurit. Digigit kakinya dengan kebuasan yang belum pernah dia rasakan selama ini. Cakarnya menghujam dalam merobek daging.</p>
<p>“Aargghh.” teriak prajurit itu. Dia melihat pada kakinya yang sakit. Matanya menemukan sesosok kucing belang. Dengan geram ditendangnya hewan itu. Biya mengerang kesakitan. Tapi dia kembali maju menyerang. Melihat itu, habis sudah kesabaran si prajurit. Pedangnya mengayun menebas. Biya berkelit ke samping, lalu melompat menggigit tangan lawannya yang memegang pedang.</p>
<p>Jeritan prajurit yang terluka memancing perhatian seluruh pasukan. Akibatnya, dia marah, kesakitan dan malu bukan main dilihat oleh teman-temannya. Apalagi penyebab semua itu cuma seekor kucing liar. Tercoreng harga dirinya sebagai prajurit. Dengan tangan kiri ditariknya Biya, lalu dibanting ke tanah. Kemudian dengan cepat ditusuknya perut si kucing.</p>
<p>“Jlepp.” sekali lagi pedang itu berdarah.</p>
<p>Tubuh Biya menggelepar. Nafasnya tercekat. Disisa kesadarannya ia menatap tubuh Leku yang tergolek tak bernyawa. Kemudian pandangannya kosong.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mizublue.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mizublue.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mizublue.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mizublue.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mizublue.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mizublue.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mizublue.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mizublue.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mizublue.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mizublue.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mizublue.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mizublue.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mizublue.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mizublue.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=140&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mizublue.wordpress.com/2010/10/11/dua-leku-dan-biya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/743357caddb40e353fd74a3ae01debf8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">foreverbeach</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis</title>
		<link>http://mizublue.wordpress.com/2010/09/25/kalian-cetak-kami-jadi-bangsa-pengemis/</link>
		<comments>http://mizublue.wordpress.com/2010/09/25/kalian-cetak-kami-jadi-bangsa-pengemis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Sep 2010 20:57:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>foreverbeach</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enlightmen]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Taufik Ismail]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mizublue.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[KALIAN CETAK KAMI JADI BANGSA PENGEMIS, LALU KALIAN PAKSA KAMI MASUK MASA PENJAJAHAN BARU, Kata Si Toni Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami Sejak lahir sampai dewasa ini  Jadi sangat tepergantung pada budaya Meminjam uang ke mancanegara Sudah satu keturunan jangka waktunya Hutang selalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=135&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table id="AutoNumber1" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="90%">
<tbody>
<tr>
<td width="100%"><strong>KALIAN CETAK KAMI JADI BANGSA PENGEMIS,<br />
LALU KALIAN  PAKSA KAMI<br />
MASUK MASA PENJAJAHAN BARU,<br />
</strong>Kata Si Toni</p>
<p>Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri<br />
Gara-gara  pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan<br />
Kalian bersengaja menjerumuskan  kami-kami<br />
Sejak lahir sampai dewasa ini  <span id="more-135"></span><br />
Jadi sangat tepergantung pada  budaya<br />
Meminjam uang ke mancanegara<br />
Sudah satu keturunan jangka  waktunya<br />
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula<br />
Lubang itu  digali lubang itu juga ditimbuni<br />
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi<br />
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini<br />
Sehingga apa bedanya dengan  mengemis lagi<br />
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia<br />
Kita  gadaikan sikap bersahaja kita<br />
Karena malu dianggap bangsa miskin tak  berharta<br />
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka<br />
Harta kita mahal  tak terkira, harga diri kita<br />
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia<br />
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama<br />
Kepada Amerika,  Jepang, Eropa dan Australia<br />
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi  ekonomi<br />
Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri<br />
Sambil kepala kita  dimakan begini<br />
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti<br />
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi<br />
Penjajahnya banyak gerakannya  penuh harmoni<br />
Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama<br />
Menggigit dan  mengunyah teratur berirama</p>
<p>Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka  lagi<br />
Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini<br />
Bagai ikan  kekurangan air dan zat asam<br />
Beratus juta kita menggelepar menggelinjang<br />
Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang<br />
Kita menjebakkan  diri ke dalam krangkeng budaya<br />
Meminjam kepeng ke mancanegara<br />
Dari  membuat peniti dua senti<br />
Sampai membangun kilang gas bumi<br />
Dibenarkan  serangkai teori penuh sofistikasi<br />
Kalian memberi contoh hidup boros berasas  gengsi<br />
Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri<br />
Gaya hidup imitasi,  hedonistis dan materialistis<br />
Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis<br />
Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa<br />
Tertancap dalam berbekas,  selepas tiga dasawarsa<br />
Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya<br />
Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami<br />
Kalian lah yang  membuat kami jadi begini<br />
Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi<br />
Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini</p>
<p>1998, Taufik Ismail</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mizublue.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mizublue.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mizublue.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mizublue.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mizublue.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mizublue.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mizublue.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mizublue.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mizublue.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mizublue.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mizublue.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mizublue.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mizublue.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mizublue.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=135&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mizublue.wordpress.com/2010/09/25/kalian-cetak-kami-jadi-bangsa-pengemis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/743357caddb40e353fd74a3ae01debf8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">foreverbeach</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Lima Sobat</title>
		<link>http://mizublue.wordpress.com/2010/09/25/kisah-lima-sobat/</link>
		<comments>http://mizublue.wordpress.com/2010/09/25/kisah-lima-sobat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Sep 2010 20:39:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>foreverbeach</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rintik Hujan]]></category>
		<category><![CDATA[Persahabatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mizublue.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Siapakah yang akan menjadi cermin bagi kita? Kalau aku menjawab: teman. Teman yang mengenal kita luar dalam, dan kita pun mengetahuinya dari segala sisi. Apalagi jika kita telah lama berteman, itu akan membuat cerminnya semakin jernih. Baru dua hari yang lalu aku mengetahui hal ini. Setelah pulang dari reuni. Itupun berawal dari kebetulan. Waktu itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=132&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } -->Siapakah yang akan menjadi cermin bagi kita? Kalau aku menjawab: teman. Teman yang mengenal kita luar dalam, dan kita pun mengetahuinya dari segala sisi. Apalagi jika kita telah lama berteman, itu akan membuat cerminnya semakin jernih.<span id="more-132"></span></p>
<p>Baru dua hari yang lalu aku mengetahui hal ini. Setelah pulang dari reuni. Itupun berawal dari kebetulan. Waktu itu aku baru beberapa hari pulang kampung. Setelah hampir dua tahun merantau mencari penghidupan dan pengalaman. Jumat pagi, aku ziarah dengan kakekku ke makam keluarga. Saat itu terhitung masih awal ramadhan. Di dekat pemakaman, aku bertatap muka dengan seseorang yang tampaknya tak asing. Dia juga terlihat merasakan hal yang sama. Dalam tempo sekian detik, nalarku memberi respon.</p>
<p>“Czztt.”</p>
<p>“Moko!”</p>
<p>“Arif!”</p>
<p>Yang terjadi kemudian adalah gelak tawa yang penuh rasa gembira. Moko adalah temanku waktu SD. Lama sudah kami tak bertemu. Banyak yang berubah darinya, makanya aku pangling tadi.</p>
<p>“Wah, nggak tahu mimpi apa semalam. Pagi ini bisa ketemu kamu.” kataku sumringah.</p>
<p>“Sama.” ucapnya dengan aksen aneh tapi lucu khas miliknya. “Aku kira  tadi siapa, kayak pernah kenal. Weitz, udah berubah ya sekarang.”</p>
<p>“Nggak, ah. Masih sama kayak yang dulu kok. Oh ya, mau ke mana, Mok?” tanyaku karena melihat dia bersepeda.</p>
<p>“Oh, ini, mau ke pasar.”</p>
<p>“Ehm, ke pasar. Eh, udah dulu ya. Kmai mau nyekar nih.” kataku sambil menengok ke arah kakekku. Pandangan Moko mengikuti, sampai dia bertatap muka dengan kakekku. Mereka saling senyum dan menganggukkan kepala.</p>
<p>Kemudian kami berpisah. Baru beberapa langkah, dia memanggilku.</p>
<p>“Bentar, Rif. Aku lupa bilang kalau Mila dan Jenia mau ngadain reuni.</p>
<p>“Ah, kapan?&#8217;</p>
<p>“Katanya sih tanggal 29 Agustus. Ragil sudah kuajak. Tapi belum tahu bisa ikut atau nggak.”</p>
<p>Wah, ada Ragil juga.</p>
<p>“Emm, gini aja. Aku minta nomormu dulu. Nanti aku sambung lagi deh ngebahas reuni ini.”</p>
<p>“Boleh.” jawab Moko.</p>
<p>Kemudian kami berpisah.</p>
<p>***</p>
<p>Sudah kudapatkan nomor telepon kawan-kawanku. Akupun berniat menghubungi Mila dan Jenia, pemrakarsa acara reuni. Tapi ada saja yang menghalangi, sampai aku kelupaan melakukannya. Kebetulan, ketika aku hendak menghubungi mereka berdua, datang pesan dari Mila. Dia memberitahu perihal reuni tersebut.</p>
<p>Di hari H acara itu, aku kembali dihubungi Mila, menanyakan kepastianku untuk datang. Hampir bersamaan dengan Mila, Moko mengirimiku pesan. Isinya sama dengan Mila. Dia bertanya, “Jadi datang nggak, Rif?”</p>
<p>Seusai menjawab pertanyaan mereka berdua, kulihat jam dinding. “Baru jam setengah dua siang. Masih agak lama.” pikirku. “Lebih baik tidur dulu karena mungkin acaranya sampai malam.”</p>
<p>Jam tiga sore lebih sedikit aku bangun. Bergegas mandi set, set, set, lalu berpakaian. Kelar semuanya jam setengah empat kurang. Pamit pada keluarga, ambil sepeda, lalu cabut. Sampai di daerah Jenia-tempat kami berkumpul- aku bingung. Yang mana ya rumahnya. Lupa-lupa ingat. Habis, sudah lama tidak mampir. Terakhir, kalau tidak salah, aku ke sana sewaktu perpisahan kelas 6 SD.</p>
<p>Terus berputar-putar. Akhirnya sepeda kukayuh menuju perpustakaan daerah, tempat di mana aku sering menghabiskan waktu saat masih bersekolah di SMK. Lokasinya masih satu komplek dengan tempat tinggal Jenia dan Mila. Ternyata perpustakaan sudah tutup. Sambil menaiki sepeda dengan tangan kiri berpegangan pada pagar perpustakaan, kucoba menghubungi Moko. Namun tak ada respon. Lalu kukirim pesan pada Jenia, menanyakan siapa saja yang sudah datang.</p>
<p>“Belum ada.” balasnya.</p>
<p>Kutengok jam. Sudah lewat setengah lima. Kuputuskan menunggu sampai jam lima. Aku tak mau menunggu lebih lama karena cuaca saat itu agak mendung. Sambil menunggu, aku ber-sms-an dengan Jenia.</p>
<p>“Ya sudah. Tunggu saja di rumahku.”</p>
<p>“Nggak, ah. Malu.” jawabku tersipu. Selain memang aku malu, aku juga lupa di mana rumahnya. Mau menanyakan, segan.</p>
<p>Jam lima kurang sepuluh menit, sebuah pesan masuk.</p>
<p>“Mereka sudah datang.”</p>
<p>“Aha. Akhirnya datang juga.” Lantas meluncurlah aku ke rumahnya meski aku belum tahu. Pikirku,”Ah, nanti lihat saja rumah yang ada teman-temanku lagi ngumpul.”</p>
<p>Di tengah jalan aku berpapasan dengan seseorang naik motor. Aku penasaran. Lalu kuikuti dia berbelok memasuki gang. Kupanggil.</p>
<p>“Oii.” Tapi dia acuh.”Ah, sudahlah. Balik lagi.” kataku membatin.</p>
<p>Akupun berbalik keluar dari gang tersebut. Kemudian masuk ke gang lainnya. Tengok kanan-kiri. Kucari terus posisi mereka. Dengan cepat rasa senangku membuncah. Tahukah engkau, bagaimana suasana hatiku saat itu? Hahaha. Sungguh bahagia tak terkira. Dan aku tahu, nanti akan lebih bahagia dari ini. Di rumah sebelah kiri dari arah aku datang, dengan teras berkeramik hijau, ada Ragil dan Moko. Dua anggota Panjodet- <em>a hope to be cool gank</em>.</p>
<p>Hehehe. Rasanya gimana gitu. Ketemu lagi dengan orang-orang yang menjadi partner petualangan kita di masa silam. Kujabat erat tangan mereka. Ada rasa haru dan gembira. Tak lama kemudian, muncul dua orang berboncengan sepeda motor. Satu orang kutahu dia adalah Mila. Dan satunya lagi adalah orang yang kupanggil saat berpapasan di gang.</p>
<p>“Nah, benerkan. Ternyata kamu Jenia. Tadi aku panggil kenapa diam saja?”</p>
<p>Dia tertawa.</p>
<p>“Maaf, maaf. Soalnya tadi sempat ragu. Arif bukan ya?&#8217; terang Jenia.</p>
<p>Sejenak kami terdiam. Mungkin berusaha menyesuaikan diri setelah lama sekali tidak berkumpul. Mataku memperhatikan mereka. Banyak yang berubah. Mila kini berkacamata dan sedikit bertambah bobotnya. Ragil agak kurusan dibanding terakhir kali aku melihatnya, namun lebih bersih. Jenia lebih periang sekarang. Dan Moko semakin konyol.</p>
<p>Ah, kanca-kancaku. Kalian adalah tulang belulang yang menumbuhkanku. Penyusun pondasi kedua dalam tonggak hidupku. Sayang beberapa orang tidak bisa datang karena kesibukannya. Sebagian lagi tak terlacak, tak ada yang tahu keberadaannya. Di manapun mereka, semoga senantiasa dalam kondisi sehat dan sejahtera, serta kami diberi kesempatan berjumpa lagi. Karena aku rindu.</p>
<p>Ada satu kejutan. Sekitar jam 17.30 muncul satu orang. Perawakannya sedang dan dia tampan. Amboi, tak disangka orang itu adalah Indra. Si lincah, demikian aku menjulukinya waktu kecil. Di saat yang lain baru berkembang raganya, Indra sudah memiliki tubuh yang liat dan gesit. Salto, ayan, dilakukannya bagai memetik daun tua.</p>
<p>“Trus ini gimana? Mau berangkat sekarang atau menunggu dulu. Siapa tahu ada yang datang lagi.” kata Mila sambil melirik jam.</p>
<p>“Terserah.” kata Ragil.</p>
<p>“Lebih baik kita berangkat sekarang. Takutnya tempat yang sudah dipesan dikasih ke orang lain.” Jenia menjelaskan.</p>
<p>“Ya sudah. Kalau begitu berangkat ke sana sekarang .” ajak aku.</p>
<p>“OK!”</p>
<p>Kami lantas pergi menuju rumah makan ABG-ayam bakar dan goreng. Ragil berboncengan dengan Moko, Jenia bersama Mila dan aku dengan Indra. Sepeda kutinggal di rumah Jenia. Dalam perjalanan aku bercakap-cakap dengan Indra.</p>
<p>“Masih nggak percaya lho, kalau kami ini Indra.”</p>
<p>“Masa?! Kenapa nggak percaya? Ini beneran aku kok.” jawab Indra sedikit tersipu.</p>
<p>“Hahaha. Ok deh. Sekarang kamu di mana, Ndra?”</p>
<p>“Apanya? Tempat tinggalnya?”</p>
<p>“Ya.”</p>
<p>“Sekarang di Teluk, Rif.”</p>
<p>“Lho, nggak di Jatiwinangun lagi toh?”</p>
<p>“Nggak. Sudah agak lama pindahnya.”</p>
<p>“Terus kakakmu, Harry. Gimana kabarnya?” aku ingat Harry karena dia dulu kakak kelas kami semasa SD.</p>
<p>“Baik. Sekarang lagi cari kerja dia. Sebelumnya ke Malaysia tapi cuma sebentar.”</p>
<p>“Ohh.”</p>
<p>Setelah itu kami lebih banyak diam. Sampai di ABG, tempatnya sudah sangat ramai. Kebanyakan rombongan anak sekolah yang hendak buka puasa bersama.</p>
<p>“Bentar ya, aku mau ke sana dulu.” kata Jenia yang kemudian pergi diikuti Mila. Tujuan mereka berdua adalah bangunan utama tempat kasir dan memasak makanana. Aku tahu alasan tempat ini dipilih. Karean ABG adalah rumah makan murah dengan masakan enak yang menyediakan tempat makan model pondokan, sehingga terasa lebih nyaman dan bebas. Maka dari itu, kebanyakan pelanggan di sini adalah <em>abg</em> yang notabene kantongnya pas tapi ingin gaul. Hehehe</p>
<p>Pondok yang sudah kami pesan berada di pinggir taman kecil dengan gentong untuk mencuci tangan serta sebotol sabun cair yang tidak bisa dipencet keluar. Jadi ya, sabunnya dituang saja kalau mau pakai. Kami berenam duduk berseberangan tiga-tiga dengan menyisakan satu meja kosong di sudut pondok. Ragil, aku dan Indra duduk membelakangi dinding bambu, lalu berhadapan dengan kami ada Jenia, Mila dan Moko.</p>
<p>Pukul 17.41 wib.</p>
<p>“Ayo, ayo. Buka&#8230;buka.” sambil berkata begitu, Ragil mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Rokok dan korek. Aku melirik sekilas dengan ekor mataku..</p>
<p>“Aku buka duluan ya.”</p>
<p>“Monggo.” Mila menimpali.</p>
<p>“Kita lulus SD tahun berapa ya?” kata Ragil tiba-tiba.</p>
<p>“Kayaknya 2001 lho. Soalnya aku ingat, waktu masuk SMP tuh tahun  2001.” kataku sambil berusaha mengingat-ingat. “ Iya, 2001.”</p>
<p>“2001. Berarti hamir sepuluh tahun kita berpisah ya. Sekarang kan tahun 2010 lewat 8 bulan.”</p>
<p>“Nggak nyangka hampir selama itu kita nggak ngumpul lagi kayak sekarang.” ucap Moko.</p>
<p>“Heeh.” Mila mengangguk.”Padahal masih kota.”</p>
<p>“Gimana lagi. Namanya juga sibuk. Pulang sekolah, capek. Mau main ke tempat kalian jadi segan. Apalagi sekarang sudah pada kerja sama kuliah. Jika bukan hari libur kayak sekarang, mungkin pada nggak bisa datang.” Ragil membersihkan puntung rokoknya seraya  berbicara.</p>
<p>“&#8230;laka sumtu wa bika&#8230;” doa berbuka puasa dibacakan. Tak lama, mengumandanglah adzan maghrib dari siaran RRI dan makanan kamipun datang.</p>
<p>“OK. Kita makan dulu.” kata Moko. Bibirnya cengengesan senang.</p>
<p>“Aah. Kamu makan nasi sama lalapannya aja tuh. Ayamnya buat aku aja.” kata Ragil. Lantas diambilnya piring berisi ayam panggang.</p>
<p>“Tuh, kan. Sudah makan aja semua. Biar aku makan cuma pakai timun.” Moko pun merajuk dan tangannya bersiap mengambil nasi. Oleh Ragil segera dikembalikannya piring itu. Selanjutnya kami makan sembari bercanda ria. Apalagi, kemudian datang dua orang gadis turut duduk dalam pondok kami, di meja kosong di sudut pondok karena pondok yang  lain telah penuh. Karuan saja mereka menjadi bahan godaan kami. Tentu saja kami disini yang dimaksud adalah para lelakinya. Bukankah sudah kodrat, bahwa kutub utara tarik-menarik dengan kutub selatan. Jujur, seandainya yang duduk ditempatku adalah aku lima sampai sepuluh tahun yang lalu, pasti tak begitu sikapku. Paling-paling hanya diam tersenyum.</p>
<p>Pada akhirnya tujuan kami adalah Alun-Alun kota Purwokerto. Kami berenam ke sana usai bersantap. Ternyata banyak orang punya niat yang sama dengan kami untuk menikmati malam di tempat itu. Karena tiba di sana, Alun-Alun penuh dengan orang Padahal cuaca agak mendung.</p>
<p>“Wah, rame.” celetuk aku.</p>
<p>“Trus kita mau duduk dimana nih?” tanya Indra.</p>
<p>“Cari dulu lah. Cari tempat yang pas dan nyaman buat kita.” kata Mila sembari melangkah di atas tanah berumput halus. Lalu Jenia mengikuti. Tak dapat berjauhan agaknya kedua orang ini. Kmai para pria-aku bingung, apa sebutan bagi kaum adam remaja selain kata cowok. Sedang kata lelaki kurasa kurang pas-menurut saja mau ke mana. Mungkin dilangkah ketujuh puluh sejak memasuki Alun-Alun, kami berhenti lalu duduk. Di sinilah akan kutunjukkan bagaimana seorang kawan menjadi cermin bagi kita. Belum lama duduk Ragil dan Moko berdiri, hendak membeli minuman dan kacang rebus. Kemudian giliran para gadis pamit untuk melampiaskan HIV (Hasrat Ingin Vipis, hehehe). Lama sekali. Jadilah aku mengobrol berdua saja dengan Indra. Sampai Moko dan Ragil balik, Jenia dan Mila masih tak kunjung kembali.</p>
<p>“Lho, mereka berdua ke mana?” tanya Ragil.</p>
<p>“Mi dan Je?! Mereka ke masjid cari toilet.” jawab Indra.</p>
<p>“Dua orang itu ke mana-mana pasti bareng. Dari dulu begitu.” kata Ragil sambil menyalakan rokoknya dan Moko merobek pembungkus kacang.</p>
<p>“Kalian juga tampaknya masih sama.” Asap putih mengepul keluar dari mulutnya.</p>
<p>“Ya nggaklah. Selama sepuluh tahun ini pasti banyak perubahan yang kita alami.” Moko menimpali. Kacang yang disuapkan ke mulutnya jatuh sebutir ke tanah.</p>
<p>“Tapi nggak ada yang seperti aku.”</p>
<p>Kutatap dia.</p>
<p>“Kenapa, Gil?”</p>
<p>Kedua kalinya asap berhembus.</p>
<p>“Berat, Rif. Sungguh berat. Rasanya nyesek kalau ingat jalan nasibku.”</p>
<p>“Lulus sekolah aku jadi  <em>sales </em>alat masak. Kerja dari pagi sampai sore, jalan kaki bawa produk. Capek, panas, penghasilan nggak tentu. Cuma beberapa bulan aku disitu. Lalu ada tetanggaku yang ngajak ikut kerja di kantin sebuah sekolah swasta. Tahu nggak kerjanya ngapain? Nyapu plus ngepel koridor kelas. Trus nyuci gerabah di kantin. Makannya cuma sekali, ketupat sama gorengan kecil satu. Gajinya? Rp. 5000 seminggu.”</p>
<p>“Habis nerima gaji aku pamit keluar dari situ. Nganggur beberapa bulan. Cari-cari kerjaan, ketemu. Jadi penjual ayam goreng di kebondalem. Aku jualannya di depan toko tempat pacarku kerja. Nggak malu aku. Malah setiap pagi dia sering nepuk-nepuk gerobakku sambil bilang, <strong>“</strong>Laris ya Mas dagangannya<strong>.”</strong> Lantas Ragil terkekeh. Aku turut tersenyum.</p>
<p>“Ini aku ngomong beneran, lho. Seneng banget aku waktu itu. Setelah agak lama, datang saudara nawarin pekerjaan di Jakarta. Jadi penjaga toko. Tapi cuma aku sendiri karyawannya. Habis toko baru sih. OK, aku mau. Sebelum berangkat ke sana aku ngobrol dengan kakak pacarku. Dia temanku juga sih. Malah dari dia aku kenal adiknya. Nah, kakak pacarku ni minta supaya aku jangan selingkuh di sana. Aku bilang agar dia nggak usah khawatir, pasti aku setia karena aku serius pacaran dengan adiknya. Sebaliknya, kuminta juga agar adiknya itu setia padaku.</p>
<p>Singkatnya aku pun berangkat ke Jakarta. Di sana malah aku jadi bener. Aku sholat, ngaji, belajar agama. Soalnya di sana sendirian, nggak ada kawan. Mau keluar-keluar, belum paham daerah situ. Sementara komunikasi sama pacar tetep jalan. Ternyata berat ya pacaran jarak jauh. Pulsanya boros banget. Tapi aku bela-belain dah. Pernah aku sakit di sana. Cuma bisa tiduran. Kangen, trus aku telepon pacar. Percaya nggak kalian, baru denger suaranya bilang “Halo”, langsung ngerasa sembuh aku. Beneran.</p>
<p>Satu dua bulan lewat. Waktu berjalan terus. Sampai suatu saat, aku merasa sikapnya berubah. Pacarku terasa enggan kuajak ngobrol. Sering dia beralasan capek, atau sudah malam. Kuterima alasannya itu. Setelah hampir setahun di Jakarta, aku balik. Kangen, sama keluarga dan tentu saja sang pacar. Setelah sampai Purwokerto, istirahat sebentar di rumah, aku langsung menemui dia. Ternyata sia-sia aku balik. Waktu kami jalan bareng, dia ngomong, bahwa sebenarnya selama ini aku cuma dianggap sebagai abangnya, bukan pacar. Sebagai abang!. Kenapa baru mengaku seperti itu sekarang. Lantas apa maksud sikapnya selama ini. Padahal dulu saat kutembak, kukatakan bahwa bila ia menolakku, maka tolaklah. Namun jika menerima, tolong jalani hubungan tersebut dengan serius. Dan dia bersedia untuk serius.”</p>
<p>Indra, aku dan Moko diam, terus menatap Ragil yang tengah menghisap batang rokoknya dalam-dalam.</p>
<p>“Sakit hati aku waktu itu. Cuma beberapa hari di sini, terus aku balik lagi ke tempat kerjaku. Di sanalah aku kolaps. Mengaji, sholat, apa semua kutinggalkan. Hampir setiap hari aku mabok. Ganja juga  kubeli pas lagi sakit-sakitnya hatiku. Sampai sekarang aku nggak habis pikir, tega-teganya dia nglakuin kayak gitu.”</p>
<p>Sedikit lagi rokok di tangan kanannya habis, namun masih dihisapnya rokok itu.</p>
<p>“Kenapa hidupku koq kayak gini&#8230;” ucapnya pahit.</p>
<p>Semuanya diam. Aku tak menyangka perjalanan Ragil akan seperti itu. Sering aku mendengar kisah yang tak beda dengannya yang dialami orang lain. Dan kini teman karibku yang warna nasibnya begitu. Aku mencoba membandingkan dengan lika-liku hidupku. Apakah aku lebih baik? Ataukah lebih memilukan kisah hidupku? Entahlah, tak dapat kuputuskan. Arah yang kami tempuh berbeda, karenanya aral yang melintang pun tak sama. Meski sama-sama masalah.</p>
<p>Benarlah yang dikatakan orang tua, bahwa usia kami adalah masa di  mana guncangan terus melanda untuk mendewasakan kami. Jika tak melampauinya, maka cacatlah sayap kami kelak, takkan kuat dikepak untuk mengarungi hidup.</p>
<p>“Wah, maaf ya lama. Tadi jalan-jalan sekalian.” Muncul Jenia dan Mila dengan satu kantong plastik besar.</p>
<p>“Hem, pantesan lama. Belanja dulu ya, Neng?”  kata Indra</p>
<p>“Hehehe. Cuma beli makanan sedikit.” Lalu Mila menaruh kantong plastik itu di tengah-tengah kami. “Silahkan, dimakan Mas.”</p>
<p>“Ini aja belum habis kacang rebusnya. Malah ditambah jajanan lagi.” kata Moko. Walau bicara seperti itu, tangannya sibuk memilih makanan yang baru dibeli.</p>
<p>“Yo wis, kacangnya buat kamu aja. Aku milih jajan ini aja.” ucapku sambil membuka bungkus wafer coklat.</p>
<p>“Ya bukan begitu. Aku juga mau yang ini.”</p>
<p>Kulirik Ragil. Meski sempat tersenyum, dia tampak masih memikirkan apa yang baru diceritakannya. Lalu kami sibuk mengunyah makanan-makanan itu. Diam-diam, aku mencuri pandang pada teman-temanku. Mencoba membaca serpihan kisah yang tampak dalam wajah mereka.. Diriku bukanlah pembaca nasih yang ulung, sobat. Namun aku tahu ada warna kesepian, kehangatan, luapan gairah dan rasa syukur pada garis-garis muka mereka berempat</p>
<p>Kembali teringat cerita Ragil. Rasanya aku perlu bantal atau ember, untuk menutupi muka karena  malu. Sebab teramat sering aku mengeluh, bahwa aku adalah pemuda yang kehilangan masa mudanya karena direnggut oleh masalah. Ah, betapa manjanya. Orang lain juga terkena masalah dan itu adalah bagian dari hidup yang telah digariskan oleh Allah pada setiap hambanya. Daripada merajuk lebih baik kita memikirkan solusi rintangan tersebut. Setelah hambatan, pasti ada jalan mulus yang nyaman. Dan usai jalan mulus, ada lagi jalan terjal. Begitu terus.</p>
<p>Selanjutnya kami saling mengingat masa-masa ketika kecil. Siapa yang cerewet, mana yang sikapnya aneh. Segala kesan yang dulu ada, kini diungkap blak-blakan. Tak ada yang tersinggung. Semuanya gembira, kecuali Ragil. Dia masih suram. Aku tahu itu, namun kubiarkan. Ia butuh bernafas sejenak, setelah memuat kenangan yang kelam.</p>
<p>Tak lama kemudian, kawanku itu mulai hangat. Dia menyambar lelucon konyol yang dilontarkan kami. Seandainya tak dikekang, mungkin diantara kami ada yang mati ketawa. Hehehe. Rasanya gembira sekali hari ini. Benar-benar menyegarkan.</p>
<p>Beranjak malam, kami pun memutuskan untuk pulang. Esok, semuanya telah dinanti oleh sebukit aktifitas dan pekerjaan. Perlahan, langkah kakiku dan lima temanku bergerak meninggalkan tanah alun-alun. Satu noktah kenangan telah digoreskan di sana.</p>
<p>Semuanya kembali ke rumah Jenia. Di situlah awalan, di situ pula akhiran. Sesampainya kami, aku segera mengambil sepeda yang diparkir di halaman samping. Lalu kutuntun menuju jalan, di mana mereka sedang berkumpul. Kawanan itu saling diam. Lantas, dimulai dari Mila, kami saling bersalaman mengucap sampai jumpa.</p>
<p>“Semuanya, makasih ya. Sudah datang.” kata Jenia.</p>
<p>“Ya. Kalau ada reuni lagi, hubungi saja aku. Nanti aku bantu ngumpulin yang lain.” Ragil menimpali.</p>
<p>“Alah, waktu pertama diajak aja, kamu nggak mau datang kok. Sok-sokan mau ngasih tahu yang lain.” Moko menyerang.</p>
<p>“Sudahlah. Itu kan dulu. Beneran nanti aku mau bantu lho.”</p>
<p>“Bener ya?” pancing Indra.</p>
<p>“Iya,”</p>
<p>“Sip dah. Gampang nanti kalau kita ada acara lagi, kamu kupanggil untuk membantu, Gil.” ujar Jenia. Wajahnya menyiratkan rasa gembira sekaligus kantuk yang berat. Sebentar lagi lampu itu pasti padam.</p>
<p>Bingung aku hendak berkata apa. Terasa berat untuk bercerai dengan mereka, karena setelah malam ini, entah kapan kami bisa bertemu lagi. Satu hal yang tak kusukai dari menjadi dewasa. Mulai kehilangan waktu. Akhirnya kami berpisah. Pulang ke tempat masing-masing. Dalam kayuhan sepeda, hatiku riang bergula madu, menyanyikan tembang tentang teman dan kehidupan di malam yang menuju pekat.</p>
<div id="attachment_138" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/09/5myfriesumir.jpg"><img class="size-medium wp-image-138" title="S/W Ver: 85.9B.E1P" src="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/09/5myfriesumir.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Sobatku!</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mizublue.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mizublue.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mizublue.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mizublue.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mizublue.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mizublue.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mizublue.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mizublue.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mizublue.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mizublue.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mizublue.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mizublue.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mizublue.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mizublue.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=132&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mizublue.wordpress.com/2010/09/25/kisah-lima-sobat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/743357caddb40e353fd74a3ae01debf8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">foreverbeach</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/09/5myfriesumir.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">S/W Ver: 85.9B.E1P</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Baca Kariage Kun, Yuk!</title>
		<link>http://mizublue.wordpress.com/2010/06/29/baca-kariage-kun-yuk/</link>
		<comments>http://mizublue.wordpress.com/2010/06/29/baca-kariage-kun-yuk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jun 2010 10:37:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>foreverbeach</dc:creator>
				<category><![CDATA[Semilir Angin]]></category>
		<category><![CDATA[Kariage Kun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mizublue.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Waktu itu, entah kenapa saya jadi kangen sama  komik-komik yang pernah saya baca semasa kecil.  Ada beberapa judul yang sangat ingin saya baca. Langsung saja  cari ke om google. Komik yang pertama ketemu Kariage Kun karangan Masashi Ueda. Baca satu, dua lembar eh, keterusan. Akhirnya sampai sore cuma baca scanlation Kariage Kun, nggak cari yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=113&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu itu, entah kenapa saya jadi kangen sama  komik-komik yang pernah saya baca semasa kecil.  Ada beberapa judul yang sangat ingin saya baca. Langsung saja  cari ke om google. Komik yang pertama ketemu Kariage Kun karangan Masashi Ueda. Baca satu, dua lembar eh, keterusan. Akhirnya sampai sore cuma baca scanlation Kariage Kun, nggak cari yang lainnya. Yuk, sama-sama kita baca komik ini.<span id="more-113"></span></p>
<p>Kariage Kun volume 2</p>
<p><a href="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4423.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-115" title="4423" src="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4423.jpg?w=196&#038;h=300" alt="" width="196" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/49531.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-118" title="4953" src="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/49531.jpg?w=300&#038;h=237" alt="" width="300" height="237" /></a></p>
<p><a href="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/49542.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-120" title="4954" src="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/49542.jpg?w=300&#038;h=237" alt="" width="300" height="237" /></a></p>
<p><a href="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4955.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-121" title="4955" src="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4955.jpg?w=300&#038;h=237" alt="" width="300" height="237" /></a></p>
<p><a href="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4956.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-122" title="4956" src="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4956.jpg?w=300&#038;h=237" alt="" width="300" height="237" /></a></p>
<p><a href="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4957.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-123" title="4957" src="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4957.jpg?w=300&#038;h=237" alt="" width="300" height="237" /></a></p>
<p><a href="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4958.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-124" title="4958" src="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4958.jpg?w=300&#038;h=237" alt="" width="300" height="237" /></a></p>
<p><a href="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4959.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-125" title="4959" src="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4959.jpg?w=300&#038;h=237" alt="" width="300" height="237" /></a></p>
<p><a href="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/49591.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-126" title="4959" src="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/49591.jpg?w=300&#038;h=237" alt="" width="300" height="237" /></a></p>
<p><a href="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4961.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-128" title="4961" src="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4961.jpg?w=300&#038;h=237" alt="" width="300" height="237" /></a></p>
<p><a href="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4960.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-127" title="4960" src="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4960.jpg?w=300&#038;h=237" alt="" width="300" height="237" /></a></p>
<p>udah ya, segitu dulu. Nanti saya tambah lagi, OK !!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mizublue.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mizublue.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mizublue.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mizublue.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mizublue.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mizublue.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mizublue.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mizublue.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mizublue.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mizublue.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mizublue.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mizublue.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mizublue.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mizublue.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=113&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mizublue.wordpress.com/2010/06/29/baca-kariage-kun-yuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/743357caddb40e353fd74a3ae01debf8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">foreverbeach</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4423.jpg?w=196" medium="image">
			<media:title type="html">4423</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/49531.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">4953</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/49542.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">4954</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4955.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">4955</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4956.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">4956</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4957.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">4957</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4958.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">4958</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4959.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">4959</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/49591.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">4959</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4961.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">4961</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/06/4960.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">4960</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keong Racun SinJo</title>
		<link>http://mizublue.wordpress.com/2010/06/25/keong-racun-sinjo/</link>
		<comments>http://mizublue.wordpress.com/2010/06/25/keong-racun-sinjo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 09:54:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>foreverbeach</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mizublue.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Aku tersenyum sendiri ketika mendengar lagu sinta &#38; Jojo. Ya, gimana lagi. Coba aja lihat, 2 abg gaul, cantik dan modis, nyanyi dan bergaya diiringi musik dangdut koplo. Gimana ga ngakak. Ngakak saya disini bukan mengejek atau mencemooh loh ya, tapi emang ngakak karena senang dan gembira melihat tingkah polah mereka yang lucu.^O^  Makasih ya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=108&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku tersenyum sendiri ketika mendengar lagu sinta &amp; Jojo. Ya, gimana lagi. Coba aja lihat, 2 abg gaul, cantik dan modis, nyanyi dan bergaya diiringi musik dangdut koplo. Gimana ga ngakak.</p>
<p>Ngakak saya disini bukan mengejek atau mencemooh loh ya, tapi emang ngakak karena senang dan gembira melihat tingkah polah mereka yang lucu.^O^  Makasih ya buat Sinta dan Jojo, udah menghibur kami. Klo kalian launching MV lagi, kabari kami ya. (hehehe)</p>
<p>Ini MV (music video) mereka. Yang kanan Jojo dan sebelah kirinya Sinta. Silakan dinikmati. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<span class='embed-youtube' style='text-align:center; display:block;'><object width='468' height='294'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/VKP1t3gQ_o0?version=3&rel=1&fs=1&showsearch=0&showinfo=1&iv_load_policy=1' /> <param name='allowfullscreen' value='true' /> <param name='wmode' value='opaque' /> <embed src='http://www.youtube.com/v/VKP1t3gQ_o0?version=3&rel=1&fs=1&showsearch=0&showinfo=1&iv_load_policy=1' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='468' height='294' wmode='opaque'></embed> </object></span>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mizublue.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mizublue.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mizublue.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mizublue.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mizublue.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mizublue.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mizublue.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mizublue.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mizublue.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mizublue.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mizublue.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mizublue.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mizublue.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mizublue.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=108&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mizublue.wordpress.com/2010/06/25/keong-racun-sinjo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/743357caddb40e353fd74a3ae01debf8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">foreverbeach</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat dari saudara kita di Palestina !</title>
		<link>http://mizublue.wordpress.com/2010/06/02/surat-dari-saudara-kita-di-palestina/</link>
		<comments>http://mizublue.wordpress.com/2010/06/02/surat-dari-saudara-kita-di-palestina/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 09:01:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>foreverbeach</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saudaraku]]></category>
		<category><![CDATA[Surat dari saudara di palestina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mizublue.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Untuk saudaraku di Indonesia, Saya tidak tahu, mengapa saya harus menulis dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia,, Namun, jika kalian tetap bertanya kepadaku,kenapa?? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki Adalah karena Negeri kalian berpenduduk muslim Terbanyak di punggung bumi ini,,,,bukan demikian saudaraku??? Disaat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=100&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk saudaraku di Indonesia,</p>
<p>Saya tidak tahu, mengapa saya harus menulis dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia,, Namun, jika kalian tetap bertanya kepadaku,kenapa?? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki Adalah karena Negeri kalian berpenduduk muslim Terbanyak di punggung bumi ini,,,,bukan demikian saudaraku??? Disaat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis da&#8217;wah dari Jama&#8217;ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada sekitar 205 ribu jama&#8217;ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini?!!!?. Wah,,,,sungguh jumlah angka yang sangat fantastis &amp; membuat saya berdecak kagum, Lalu saya mengatakan kepadanya, saudaraku,,,,jika jumlah jama&#8217;ah Haji asal GAZA sejak tahun 1987 Sampai sekarang di gabung,,itu belum bisa menyamai jumlah jama&#8217;ah haji Dari negeri kalian dalam satu musim haji saja. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat di banding kalian yah? Wah?.wah?pasti uang kalian sangat banyak yah, apalagi menurut sahabatku itu ada 5 % dari rombongan tersebut yang menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya,,,Subhanallah.<span id="more-100"></span></p>
<p>Wahai saudaraku di Indonesia,<br />
Pernah saya berkhayal dalam hati,,kenapa saya &amp; kami yang ada di GAZA ini, tidak dilahirkan di negeri kalian saja. Wah?.pasti sangat indah dan mengagumkan yah. Negeri kalian aman, kaya dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui Tentang negeri kalian. Pasti para ibu-ibu disana amat mudah Menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapatkan di toko-toko &amp; para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan. Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku Tidak seperti di negeri kami ini, saudaraku, anak-anak bayi kami lahir di tenda-tenda pengungsian. Bahkan tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami Melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah, Sehingga istri-istri kami terpaksa melahirkan diatas mobil,,,,yah diatas mobil saudaraku!! Susu formula bayi adalah barang yang langka di GAZA sejak kami di blokade 2 tahun lalu, Namun isteri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga dua tahun lamanya Walau, terkadang untuk memperlancar ASI mereka, isteri kami rela minum air rendaman gandum. Namun,,,mengapa di negeri kalian , katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah &amp; ibunya , terkadang ditemukan mati di parit-parit, di selokan-selokan dan di tempat sampah,,,,itu yang kami dapat dari informasi televisi.</p>
<p>Dan yang membuat saya terkejut dan merinding,,, ,, ternyata negeri kalian adalah negeri yang tertinggi kasus Abortusnya untuk wilayah ASIA,,,,Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian..??? Apakah karena di negeri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina tersebut?.!! !, sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami di sini. Memang hampir setiap hari di GAZA sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati, Namun, bukanlah diselokan-selokan,,,,atau got-got apalagi ditempat sampah?saudaraku! !!, Mereka mati syahid,,,saudaraku! mati syahid karena serangan roket tentara Israel !!!</p>
<p>Kami temukan mereka tak bernyawa lagi dipangkuan ibunya ,di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan roket tentara Zionis Israel, Saudaraku,,, ,bagi kami nilai seorang bayi adalah Aset perjuangan perlawanan kami terhadap penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan Negeri ini. Perlu kalian ketahui,,,sejak serangan Israel tanggal 27 desember (2009) kemarin, Saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 diantaranya adalah anak-anak kami Namun,,,,sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru Dijalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar,,,Allahu Akbar!!!</p>
<p>Wahai saudaraku di Indonesia,<br />
Negeri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, Namun kenapa di negeri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi ,menderita busung lapar,,,, Apa karena kalian sulit mencari rezki disana..? apa negeri kalian sedang di blokade juga..? Perlu kalian ketahui,,,saudaraku , tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi apalagi sampai mati kelaparan,,, walau sudah lama kami diblokade. Kalian terlalu manja?!? Saya adalah pegawai Tata usaha di kantor pemerintahan Hamas Sudah 7 bulan ini, gaji bulanan belum saya terima, tapi Allah SWT yang akan mencukupkan rezki untuk kami. Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda Baru saja melangsungkan pernikahan,, ,yah,,,mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel, Mereka mengucapkan akad nikah,,,,diantara bunyi letupan bom dan peluru saudaraku. Dan Perdana menteri kami, yaitu ust Isma?il Haniya memberikan santunan awal pernikahan Bagi semua keluarga baru tersebut.</p>
<p>Wahai Saudaraku di Indonesia,<br />
Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqoh pembinaan Di Negeri antum, seperti yang diceritakan teman saya tersebut,,,, Program pengajian kalian pasti bagus bukan, banyak kitab mungkin yang telah kalian baca, dan Buku-buku pasti kalian telah lahap,,,kalian pun sangat bersemangat bukan, itu karna kalian punya waktu.Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini wahai saudaraku. Satu jam,,,yah satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqoh Setelah itu kami harus terjun langsung ke lapanagn jihad, sesuai dengan tugas yang Telah diberikan kepada kami. Kami di sini sangat menanti-nantikan hari halaqoh tersebut Walau Cuma satu jam saudaraku,,, ,Tentu kalian lebih bersyukur, kalian lebih punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqoh, Seperti ta&#8217;aruf, tafahum dan takaful di sana. Hafalan antum pasti lebih banyak dari kami,,, Semua pegawai dan pejuang Hamas di sini wajib menghapal surat al anfaal sebagai nyanyian perang kami, saya menghapal di sela-sela waktu istirahat perang ,,, bagaimana Dengan kalian?? Akhir desember kemarin, saya menghadiri acara wisuda penamatan hafalan 30 juz anakku yang pertama, ia diantara 1000 anak yang tahun ini menghapal al qur?an, umurnya baru 10 tahun , Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal al quran ketimbang anak-anak kami disini, di Gaza tidak ada SDIT seperti di tempat kalian, yang menyebar seperti jamur sekarang. Mereka belajar di antara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah Diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun pohon kurma,,,, yah di tempat itulah mereka belajar Saudaraku,, bunyi suara setoran hafalan al quran mereka bergemuruh diantara bunyi-bunyi senapan tentara Israel? Ayat-ayat Jihad paling cepat mereka hafal,,,karena memang didepan mereka tafsirnya. Langsung Mereka rasakan.</p>
<p>Wahai Saudaraku di Indonesia,<br />
Oh, iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat aksi solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia, kami menyaksikan demo-demo kalian disini. Subhanallah, ,,,,kami sangat terhibur, karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini. Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami di sini, termasuk kalian di Indonesia. Namun,,,bukan tangisan kalian yang kami butuhkan saudaraku Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti nanti di akhirat yang dicatat Allah sebagai Bukti ukhuwah kalian kepada kami. Doa-doa kalian dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya. Oh,,,iya hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya Untuk menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telepon dan fax yang masuk Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi Salam untuk semua pejuang-pejuang islam di Indonesia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mizublue.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mizublue.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mizublue.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mizublue.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mizublue.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mizublue.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mizublue.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mizublue.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mizublue.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mizublue.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mizublue.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mizublue.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mizublue.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mizublue.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=100&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mizublue.wordpress.com/2010/06/02/surat-dari-saudara-kita-di-palestina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/743357caddb40e353fd74a3ae01debf8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">foreverbeach</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nah, sekarang bagaimanakah kepribadian anda?</title>
		<link>http://mizublue.wordpress.com/2010/01/27/nah-sekarang-bagaimanakah-kepribadian-anda/</link>
		<comments>http://mizublue.wordpress.com/2010/01/27/nah-sekarang-bagaimanakah-kepribadian-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 03:54:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>foreverbeach</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enlightmen]]></category>
		<category><![CDATA[tes kepribadian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mizublue.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Pernah lihat burung nggak ? Dan saat menatap burung itu, pernahkah terlintas dalam pikiran kita, apakah mereka punya kepribadian atau tidak. Jangan-jangan, hanya manusia yang punya kepribadian. Soalnya selama ini, banyak yang membahas tentang kepribadian manusia saja, jarang tentang hewan &#8211; atau cuma saya saja yang belum tahu. Yang paling sering saya temui adalah pembahasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=77&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah lihat burung nggak ? Dan saat menatap burung itu, pernahkah terlintas dalam pikiran kita, apakah mereka punya kepribadian atau tidak. Jangan-jangan, hanya manusia yang punya kepribadian. Soalnya selama ini, banyak yang membahas tentang kepribadian manusia saja, jarang tentang hewan &#8211; atau cuma saya saja yang belum tahu.</p>
<p>Yang paling sering saya temui adalah pembahasan tipe karakteristik berdasarkan suatu benda/hal. Misalkan dari cara kita memakai bantal, dengan pemilihan suatu gambar dan berdasarkan tulisan tangan.<span id="more-77"></span></p>
<p>Dilihat dari cara pemakaian bantal, ada lima watak yang bisa kita lihat :</p>
<p><strong>1. Menggunakan Banyak Bantal </strong><br />
Orang seperti ini biasanya kurang kenyakinan.Dalam kehidupan seharian mereka memerlukan banyak pendamping. Mereka jarang membuat keputusan sendiri, sebaliknya mendapatkan pandangan orang lain.<br />
<strong><br />
2. Tidur Dengan Satu Bantal </strong><br />
Tipe ini bukan jenis mengada-ngada dan boleh menerima keadaan seadanya. Dan mereka juga membuat keputusan berdasarkan fikiran dan bukan nafsu semata-mata.</p>
<p><strong>3. Meletakkan Bantal Di Bawah Kaki</strong><br />
Pemilik sikap ini mempunyai sifat kurang baik. Jarang bergaul dengan orang ramai, malah kaku dalam pergaulan. Ini menyebabkan mereka cenderung bersifat egois. Mereka juga gemar menempuh jalan pintas untuk mencapai cita-cita. Mereka tidak suka berusaha.</p>
<p><strong>4. Tidur tanpa Bantal </strong></p>
<p>Tipe ini memiliki sifat percaya diri yang sangat tinggi. Kadangkala sifat percaya diri ini akhirnya akan membawa kepada sifat ego.</p>
<p>Itu berdasarkan cara menggunakan bantal. Ada lagi yang lain, yaitu dengan memilih satu diantara beberapa gambar. Pilih sebuah bentuk dibawah ini yang paling anda senangi lalu baca kepribadian anda dibawahnya</p>
<p><a href="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/01/1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-78" title="1" src="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/01/1.jpg?w=437&#038;h=227" alt="" width="437" height="227" /></a></p>
<p><strong>JAWABAN YANG ANDA PILIH :</strong></p>
<p><strong>Gambar No. 1. Introspektif, Sensitif, Reflective</strong><br />
Anda lebih sering dan fokus terhadap diri dan lingkungan sendiri daripada berinteraksi dengan orang lain. Anda membenci kedangkalan, lebih senang menyendiri daripada terluka karena bisikan orang. Tapi hubungan anda dengan teman-teman anda sangat intensif, yang memberikan anda ketenangan dan keserasian yang anda butuhkan untuk merasa baik. Bagaimanapun itu bukan masalah bagi anda untuk menyendiri untuk beberapa waktu tanpa menjadi bosan.</p>
<p><strong>Gambar No.2. Mandiri, Tidak biasa (tidak konvensional), Tak tertekang</strong><br />
Anda menginginkan kebebasan dan ketidakterikatan hidup yang membiarkan anda menentukan jalan anda sendiri. Anda memiliki bakat artistik dalam kerjaan anda dan aktifitas luang. Desakan untuk bebas kadang menyebabkan anda melakukan perbuatan yang sangat berlawanan dengan apa yang anda inginkan.<br />
Gaya hidup anda sangat individual. Anda tidak akan meniru secara buta apa yang sedang “in”, disisi lain anda mencari kehidupan yang sesuai dengan cita cita dan dan pendirianmu, bahkan bila harus berenang melawan pasang.</p>
<p><strong>Gambar No 3. Dinamis, Aktif, Mementingkan hal-hal lahir</strong><br />
Anda sungguh berkeinginan untuk menerima beberapa resiko dan berkomitmen kuat dalam menukar ketertarikan dan pekerjaan yang bervariasi. Rutin, berlawanan, cenderung berefek melumpuhkan anda.<br />
Apa yang paling anda sukai adalah bisa memainkan peran dalam banyak bidang.<br />
Dalam melakukannya, inisiatif anda lebih kuat.</p>
<p><strong>Gambar No 4. Bersahaja, Sangat teguh pendirian, harmonis</strong><br />
Anda menghargai gaya dan cinta alami yang tidak rumit. Orang mengagumi anda karena anda memiliki kemampuan bertanan kuat dan mereka bergantung pada anda. Anda memberikannya pada orang yang dekat perlindungan dan jarak. Anda merasa hangat dan manusiawi. Anda menolak segala sesuatu yang mencolok dan usang. Anda cenderung ragu pada tingkah/perubahan trend mode. Bagi anda pakaian harus praktis dan bagus yang tidak menonjol.</p>
<p><strong>Gambar No 5. Professional, Pragmatis, Percaya diri</strong><br />
Anda bertanggung jawab pada hidup anda, meletakkan lebih kecil keberuntungan anda dan lebih kepada perbuatan sendiri.Anda memecahkan masalah dengan tindakan yang praktis dan tidak rumit. Anda memandang secara realistis sesuatu dalam hidup anda dan menanganinya dengan baik. Anda diberi tanggung jawab yang besar dalam pekerjaan, karena orang tahu bahwa anda dapat diandalkan.<br />
Kekuatan tegas terhadap kemauan akan memproyeksikan keyakinan anda terhadap orang lain. Anda tidak akan pernah benar-benar merasa puas sampai semua cita-cita anda.</p>
<p><strong>Gambar No 6. Tenang/Damai, Bijaksana, Tidak Agresif</strong><br />
Anda menanggap hidup mudah karena bijaksana. Anda mendapatkan teman tanpa kesukaran karena menikmati keprifasian anda dan kemandirian. Anda sering menjauh darinya dan menyendiri dari waktu ke waktu untuk merenungi arti kehidupan dan menikmati sendiri. Anda membutuhkan tempat untuk persembunyian yang indah, tapi anda tidak seoarang penyendiri. Anda tenang terhadap diri sendiri dan dunia, dan menghargai hidup dan apa yang dunia tawarkan.</p>
<p><strong>Gambar No 7. Riang, Suka bermain/melucu, menyenangkan</strong><br />
Anda menyukai kehidupan yang bebas dan spontan. Dan anda berusaha menikmatinya secara penuh karena memegang moto ” Anda hanya hidup sekali.<br />
Keingin tahuan anda besar dan terbuka trhadp segala sesuatu yang baru, anda berkembang dengan perubahan. Anda menganggap lingkungan anda serbaguna dan selalau memberikan kejutan.</p>
<p><strong>Gambar No 8. Romantis, Pemimpi, Emosional</strong><br />
Anda sangat sensitif. Anda menolak melihat sesuatu dari sudut pandang kesederhanaan dan tasionalitas. Apa yang perasaan anda katakan sangat penting untuk anda. Kenyataanya, Anda merasa penting untuk memiliki mimpi-mimpi dalam hidup.<br />
Anda menolak orang yang mencemoohkan romantisme dan hanya dikendalikan oleh rasionalitas. Anda menolak utnuk membiarkan sesuatu membatasi keragaman kekayaan mood dan emosi anda.</p>
<p><strong>Gambar No 9. Analitis, Terpercaya, Percaya diri</strong><br />
Senstifitas sebentar anda mewakili kualitas dan ketahanan yang tinggi.Konsekuensinya, anda suka menyelimuti diri anda dengan ” mutiara kecil ” yang anda temukan dimanapun orang lain mengabaikannya.<br />
Lalu, Budaya sangat mempengaruhi kehidupan anda. Anda telah temukan kehidupan anda sendiri, yaitu elegan/luwes dan eksklusif, bebas dari pengaru mode. Ideal anda, anda mendasarkan kehidupan anda, adalah dibudayakan kesenangan.<br />
Anda menilai tingkatan budaya seseorang pada siapa anda berbicara.</p>
<p>Gimana? Menurut anda, dua tes di atas sudah bisa memberikan gambaran kepribadian anda yang sebenarnya? Tepat nggak dengan diri anda? Jika masih ragu, silakan coba tes yang satu ini.</p>
<p><strong>Tips membaca karakter orang dari tulisan tangan</strong></p>
<p>Saat kita menulis sebenarnya tangan kita hanya sebagai alat untuk memegang pena. Gaya tulisan kita itu berasal dari pikiran bawah sadar kita. maka bisa dikatakan bahwa tulisan bisa mengungkapkan berbagai perasaan emosi si penulisnya. Tentu saja untuk mengetahuinya tidak sembarangan ada ilmu membaca rahasia dibalik tulisan tangan atau yang disebut dengan graphology. Ambil pulpen agan dan tuliskan sesuatu yang mana yah kira-kira karakter agan? Berikut penjelasan secara garis besarnya.</p>
<p><strong>Tekanan</strong><br />
Dari kuat atau ringannya tekanan tulisan seseorang kita dapat mengetahui karakter orang tersebut. Bisa agan perhatikan dengan memperhatikan bekas goresan dibalik kertas.<br />
<strong><em>Tekanan yang kuat:</em></strong><br />
Orang yang tulisannya tebal hingga menimbulkan bekas coretan dibalik kertas biasanya mereka memiliki emosional yang tinggi. Terlalu mendalami perasaan mereka baik itu bahagia atau sakit hati. Mereka menyerap segala suatu seperti spon. Biasanya mereka juga memiliki selera yang tinggi. Tegas dan memiliki keinginan yang kuat bahkan cenderung memaksakan orang lain untuk menuruti kemauan meraka. Makanya tak jarang orang yang memiliki tekanan tulisan seperti ini biasanya kaku susah menyesuaikan diri dalam pergaulan.<br />
<strong><em>Tekanan yang ringan:</em></strong><br />
Tulisan yang memiliki tekanan halus mencerminkan kepribadian yang tenang dan santai. Mereka lebih bertoleransi pengertian sulit mengambil keputusan dan biasanya mudah terpengaruh</p>
<p><strong>Ukuran</strong><br />
<strong><em>Tulisan besar</em></strong><br />
Orang yang menulis dengan ukuran tulisan yang besar biasanya cenderung suka diperhatikan selalu ingin tampil didepan dan ingin didengarkan.<br />
<strong><em>Tulisan kecil</em></strong><br />
Orang yang menulis dengan ukuran kecil biasanya lebih memperhatikan detail introspektif cenderung lebih pendiam dan mandiri</p>
<p><strong>Kemiringan</strong><br />
<strong><em>Miring ke kanan</em></strong><br />
Orang dengan tulisan seperti ini biasanya memiliki karakter yang impulsif emosional aktif suka bergaul ramah menyukai tantangan lebih terbuka (ekstrovert) dan ekspresif<br />
<strong><em>Miring ke kiri</em></strong><br />
Jenis tulisan seperti ini biasanya penulisnya bersikap menutup diri (introvert). Lebih protektif selalu berpikir logis dan mencerminkan sifat seseoarang yang lebih menarik diri.<br />
<strong><em>Tegak lurus</em></strong><br />
Orang yang memiliki tulisan tegak lurus mencerminkan seseorang yang bisa mengontrol diri dan bisa menahan Saat kita menulis sebenarnya tangan kita hanya sebagai alat untuk memegang pena. Gaya tulisan kita itu berasal dari pikiran bawah sadar kita. maka bisa dikatakan bahwa tulisan bisa mengungkapkan berbagai perasaan emosi si penulisnya.</p>
<p>Tentu saja sebelum menulis artikel ini saya sudah mencobanya lebih dulu. Hasilnya sebagian besar cocok dengan  kondisi saya. Kalau mengetes diri kita dengan satu jenis tes saja, mungkin masih ragu. Tapi jika lebih dari satu dan semuanya menunjukkan hasil yang sama, tentu kita jadi lebih yakin, kan?</p>
<p>Nah, sekarang bagaimanakah kepribadian anda?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mizublue.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mizublue.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mizublue.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mizublue.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mizublue.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mizublue.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mizublue.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mizublue.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mizublue.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mizublue.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mizublue.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mizublue.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mizublue.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mizublue.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=77&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mizublue.wordpress.com/2010/01/27/nah-sekarang-bagaimanakah-kepribadian-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/743357caddb40e353fd74a3ae01debf8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">foreverbeach</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mizublue.files.wordpress.com/2010/01/1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Inilah Palestina tahun 1900 sebelum dijajah oleh Israel</title>
		<link>http://mizublue.wordpress.com/2009/09/12/inilah-palestina-tahun-1900-sebelum-dijajah-oleh-israel/</link>
		<comments>http://mizublue.wordpress.com/2009/09/12/inilah-palestina-tahun-1900-sebelum-dijajah-oleh-israel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 04:52:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>foreverbeach</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saudaraku]]></category>
		<category><![CDATA[HIstory of palestine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mizublue.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[. ( dari unik77.blogspot.com )<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=10&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji-jmFpC2I/AAAAAAAAGPU/jwzurhwPU0Q/s400/falestin7.jpg"><img class="alignnone" src="http://2.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji-jmFpC2I/AAAAAAAAGPU/jwzurhwPU0Q/s400/falestin7.jpg" alt="" width="302" height="400" /><span id="more-10"></span></a></p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji-ke_konI/AAAAAAAAGPs/ujl1nmvZhO8/s400/falestin10.jpg"><img class="alignnone" src="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji-ke_konI/AAAAAAAAGPs/ujl1nmvZhO8/s400/falestin10.jpg" alt="" width="320" height="400" /></a></p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji-kKOlxXI/AAAAAAAAGPk/-qth3cVDT24/s400/falestin9.jpg"><img class="alignnone" src="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji-kKOlxXI/AAAAAAAAGPk/-qth3cVDT24/s400/falestin9.jpg" alt="" width="400" height="290" /></a></p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji-kPdlg_I/AAAAAAAAGPc/WAXWTitkcQc/s400/falestin8.jpg"><img class="alignnone" src="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji-kPdlg_I/AAAAAAAAGPc/WAXWTitkcQc/s400/falestin8.jpg" alt="" width="303" height="400" /></a></p>
<p><a href="http://1.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji-jq8YsTI/AAAAAAAAGPM/-aRnJIOIJ2Y/s400/falestin6.jpg"><img class="alignnone" src="http://1.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji-jq8YsTI/AAAAAAAAGPM/-aRnJIOIJ2Y/s400/falestin6.jpg" alt="" width="400" height="298" /></a></p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji9qyHeVGI/AAAAAAAAGO8/AYRjtwhLgUs/s400/falestin4.jpg"><img class="alignnone" src="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji9qyHeVGI/AAAAAAAAGO8/AYRjtwhLgUs/s400/falestin4.jpg" alt="" width="324" height="400" /></a></p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji9qVK4GmI/AAAAAAAAGO0/S4SoXXwX89Y/s400/falestin3.jpg"><img class="alignnone" src="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji9qVK4GmI/AAAAAAAAGO0/S4SoXXwX89Y/s400/falestin3.jpg" alt="" width="400" height="296" /></a></p>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji9pg8SabI/AAAAAAAAGOk/X2HnXQRSXYc/s400/falestin1.jpg"><img class="alignnone" src="http://3.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji9pg8SabI/AAAAAAAAGOk/X2HnXQRSXYc/s400/falestin1.jpg" alt="" width="400" height="296" /></a></p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji9rAvVD5I/AAAAAAAAGPE/vvj8oB6JKLs/s400/falestin5.jpg"><img class="alignnone" src="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji9rAvVD5I/AAAAAAAAGPE/vvj8oB6JKLs/s400/falestin5.jpg" alt="" width="293" height="400" /></a></p>
<p><a href="http://1.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji_E-K3wsI/AAAAAAAAGQU/SwhJqStswWo/s400/falestin15.jpg"><img class="alignnone" src="http://1.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji_E-K3wsI/AAAAAAAAGQU/SwhJqStswWo/s400/falestin15.jpg" alt="" width="400" height="305" /></a>.</p>
<p><a href="http://1.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji_El3Q0RI/AAAAAAAAGQM/GbwD7DfyDjE/s400/falestin14.jpg"><img class="alignnone" src="http://1.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji_El3Q0RI/AAAAAAAAGQM/GbwD7DfyDjE/s400/falestin14.jpg" alt="" width="400" height="383" /></a></p>
<p><a href="http://1.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji_EScxHVI/AAAAAAAAGQE/Cq0ofMFvHxI/s400/falestin13.jpg"><img class="alignnone" src="http://1.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji_EScxHVI/AAAAAAAAGQE/Cq0ofMFvHxI/s400/falestin13.jpg" alt="" width="400" height="342" /></a></p>
<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji_EHKDhOI/AAAAAAAAGP0/86617KpC62M/s400/falestin11.jpg"><img class="alignnone" src="http://2.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji_EHKDhOI/AAAAAAAAGP0/86617KpC62M/s400/falestin11.jpg" alt="" width="400" height="346" /></a></p>
<p><a href="unik77.blogspot.com"><img class="alignnone" src="http://1.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji_Ec1JvgI/AAAAAAAAGP8/UssrPo2bg_s/s400/falestin12.jpg" alt="" width="302" height="400" /></a></p>
<p>( dari <a href="http://unik77.blogspot.com">unik77.blogspot.com</a> )</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mizublue.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mizublue.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mizublue.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mizublue.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mizublue.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mizublue.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mizublue.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mizublue.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mizublue.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mizublue.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mizublue.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mizublue.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mizublue.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mizublue.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=10&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mizublue.wordpress.com/2009/09/12/inilah-palestina-tahun-1900-sebelum-dijajah-oleh-israel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/743357caddb40e353fd74a3ae01debf8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">foreverbeach</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://2.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji-jmFpC2I/AAAAAAAAGPU/jwzurhwPU0Q/s400/falestin7.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji-ke_konI/AAAAAAAAGPs/ujl1nmvZhO8/s400/falestin10.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji-kKOlxXI/AAAAAAAAGPk/-qth3cVDT24/s400/falestin9.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji-kPdlg_I/AAAAAAAAGPc/WAXWTitkcQc/s400/falestin8.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji-jq8YsTI/AAAAAAAAGPM/-aRnJIOIJ2Y/s400/falestin6.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji9qyHeVGI/AAAAAAAAGO8/AYRjtwhLgUs/s400/falestin4.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji9qVK4GmI/AAAAAAAAGO0/S4SoXXwX89Y/s400/falestin3.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://3.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji9pg8SabI/AAAAAAAAGOk/X2HnXQRSXYc/s400/falestin1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://4.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji9rAvVD5I/AAAAAAAAGPE/vvj8oB6JKLs/s400/falestin5.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji_E-K3wsI/AAAAAAAAGQU/SwhJqStswWo/s400/falestin15.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji_El3Q0RI/AAAAAAAAGQM/GbwD7DfyDjE/s400/falestin14.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji_EScxHVI/AAAAAAAAGQE/Cq0ofMFvHxI/s400/falestin13.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://2.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji_EHKDhOI/AAAAAAAAGP0/86617KpC62M/s400/falestin11.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/_rlTOI_eC7dY/Sji_Ec1JvgI/AAAAAAAAGP8/UssrPo2bg_s/s400/falestin12.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Let&#8217;s get married</title>
		<link>http://mizublue.wordpress.com/2009/09/12/lets-get-married/</link>
		<comments>http://mizublue.wordpress.com/2009/09/12/lets-get-married/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 04:51:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>foreverbeach</dc:creator>
				<category><![CDATA[Semilir Angin]]></category>
		<category><![CDATA[Let's get married]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mizublue.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Kawan, berapakah umur yang kau inginkan untuk menikah? Ehm, pasti bermacam-macam jawabnya. Pernah teman satu kelasku di STM menceritakan pemikirannya, bahwa dia ingin usia muda sudah berumah tangga. Ketika kutanyakan,&#8221;Apa alasannya?&#8221; Dia menjawab,&#8221;Agar aku dan anakku bisa lebih akrab. Kalo usianya ga beda jauh kan, rasanya kaya kakak-beradik lho.&#8221; Benar juga, sih. Meskipun menurutku ga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=11&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kawan, berapakah umur yang kau inginkan untuk menikah? Ehm, pasti bermacam-macam jawabnya. Pernah teman satu kelasku di STM menceritakan pemikirannya, bahwa dia ingin usia muda sudah berumah tangga. Ketika kutanyakan,&#8221;Apa alasannya?&#8221;<span id="more-11"></span></p>
<p>Dia menjawab,&#8221;Agar aku dan anakku bisa lebih akrab. Kalo usianya ga beda jauh kan, rasanya kaya kakak-beradik lho.&#8221;</p>
<p>Benar juga, sih. Meskipun menurutku ga sepenuhnya. Kita masih bisa menjadi kawan untuk anak kita meskipun terpaut puluhan tahun. Aku ingin berumah tangga sekitar umur 23. Tadinya sih usia 27, nanti acara pernikahannya pas tanggal kelahiranku, tanggal 27 bulan 7. Jadi klop kan? Tapi kupikir-pikir, kayakya itu terlalu tua. Maka diganti menjadi umur 23.</p>
<p>Sekarang aku sudah 20 tahun hidup di dunia ini. Banyak hal yang aku alami dan pelajari. Walaupun begitu, diri ini masih bimbang, siap apa nggak membina kehidupan baru bersama pasangan tiga tahun lagi? Kenapa bisa gini?! Ya, karena semakin banyak tahu justru aku semakin mengerti bahwa berkeluarga itu tidak gampang.</p>
<p>Dengan kakak atau adikku saja, yang sudah lama hidup bersama dan saling mengenal, masih sering diwarnai konflik, apalagi dengan dia yang &#8220;baru kemarin&#8221; aku tahu.  Juga tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Pastinya aku harus bisa menjadi ayah dan suami yang bisa mendidik, melindungi dan memberikan rasa nyaman pada keluargaku.</p>
<p>Menjadi pemimpin rumah tangga jelas beda dengan pemimpin organisasi atau kepanitiaan. Tanggung jawab yang diemban sebatas memajukan atau menyukseskan kegiatan organisasi. Selain itu, setelah berada diluar kantor dan menanggalkan &#8220;baju kebesaran&#8221; maka lepas pula status dan tanggungjawab.</p>
<p>Tapi di rumahtangga, dimanapun dan selama terjalin ikatan suami-istri, maka tanggungjawab itu masih tetap ada. Mengelola hal ini jauh lebih kompleks ketimbang urusan kantor. Karena didalamnya melibatkan unsur perasaan yang fleksibel bagai air, menyesuaikan bentuk sesuai dengan kondisi sekitarnya. Nah, menjaga agar air perasaan ini tetap berada dalam keadaan stabil dengan bentuk yang indah inilah salah satu tantangan membina keluarga.</p>
<p>Mungkin karena itulah aku mendambakan pendamping yang lebih matang. Ya, wanita dewasa. Aku menginginkan sesosok insan hawa seperti itu, agar dapat menopang tubuhku saat aku ambruk tak kuat. Supaya bisa menjadi rekan hidup yang tangguh bersamaku.</p>
<p>Senang rasa hatiku ketika memandang wajah wanita dewasa. Dewasa disini dalam arti pemikiran dan sikap lho, bukan yang lain. Awas kalau mikirnya macam-macam! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Hatiku sering berandai-andai, &#8220;Ah, semoga istriku kelak mirip kakak itu. Wanita yang sabar dan welas-asih serta tegar.&#8221;</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/_IUYlNU10BMY/Sk3dmO5okZI/AAAAAAAAWG8/8V3aKk8FqDw/s400/1245360131_19.jpg"><img class="aligncenter" src="http://4.bp.blogspot.com/_IUYlNU10BMY/Sk3dmO5okZI/AAAAAAAAWG8/8V3aKk8FqDw/s400/1245360131_19.jpg" alt="" width="300" height="400" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mizublue.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mizublue.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mizublue.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mizublue.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mizublue.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mizublue.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mizublue.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mizublue.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mizublue.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mizublue.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mizublue.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mizublue.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mizublue.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mizublue.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mizublue.wordpress.com&amp;blog=9210158&amp;post=11&amp;subd=mizublue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mizublue.wordpress.com/2009/09/12/lets-get-married/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/743357caddb40e353fd74a3ae01debf8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">foreverbeach</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://4.bp.blogspot.com/_IUYlNU10BMY/Sk3dmO5okZI/AAAAAAAAWG8/8V3aKk8FqDw/s400/1245360131_19.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
